Blog komunitas Arsitektur Universitas Gunadarma
 
November 29th, 2012
 

Read the rest of this entry »

 
November 29th, 2012
 

Read the rest of this entry »

 
November 29th, 2012
 

Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah bangunan yang dibangun oleh zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun oleh beberapa generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam.

Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirikhas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasiken dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedapankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani.

Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.

Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.

Arsitektur tradisional di Indonesia
Arsitektur tradisional di Indonesia

Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya.

Pengaruh Islam dalam Arsitektur
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam.
Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad keempat belas. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa “Zaman Klasik” di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman “biadab” dan juga bukanlah awal dari “Abad Kegelapan”. Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. “New Era” selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).
Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang

Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.

Gaya Belanda dan Hindia Belanda
Pengaruh Barat di mulai jauh sebelum tahun 1509 ketika Marco Polo dari Venesia melintasi Nusantara di 1292 untuk kegiatan perdagangan. Sejak itu orang-orang Eropa berusaha untuk merebut kendali atas perdagangan rempah-rempah yang sangat menguntungkan. Portugis dan Spanyol, dan kemudian Belanda, memperkenalkan arsitektur mereka sendiri dengan cara awal tetap menggunakan berbagai elemen arsitektur Eropa, namun kemudian dapat beradaptasi dengan tradisi arsitektur lokal. Namun proses ini bukanlah sekadar satu arah: Belanda kemudian mengadopsi unsur-unsur arsitektur pribumi untuk menciptakan bentuk yang unik yang dikenal sebagai arsitektur kolonial Hindia Belanda. Belanda juga sadar dengan mengadopsi arsitektur dan budaya setempat kedalam arsitektur tropis baru mereka dengan menerapkan bentuk-bentuk tradisional ke dalam cara-cara modern termasuk bahan bangunan dan teknik konstruksi.
Gereja Blenduk dan Lawang Sewu bangunan, contoh dari arsitektur Belanda
Bangunan kolonial di Indonesia, terutama periode Belanda yang sangat panjang 1602 – 1945 ini sangat menarik untuk menjelajahi bagaimana silang budaya antara barat dan timur dalam bentuk bangunan, dan juga bagaimana Belanda mengembangkan aklimatisasi bangunan di daerah tropis. Menurut Sumalyo (1993), arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah fenomena budaya unik yang pernah ditemukan di tempat lain maupun di tanah air mereka sendiri. Bangunan-bangunan tesebut adalah hasil dari budaya campuran kolonial dan budaya di Indonesia.
Perbedaan konsep Barat dan Indonesia ke dalam arsitektur adalah terletak pada korelasi antara bangunan dan manusianya. Arsitektur Barat adalah suatu totalitas konstruksi, sementara itu di Timur lebih bersifat subjektif, yang lebih memilih penampilan luar terutama façade depan. Kondisi alam antara sub-tropis Belanda dan tropis basah Indonesia juga merupakan pertimbangan utama bangunan Belanda di Indonesia.
Sebenarnya, Belanda tidak langsung menemukan bentuk yang tepat untuk bangunan mereka di awal perkembangannya di Indonesia. Selama awal kolonisasi Eropa awal abad 18, jenis bangunan empat musim secara langsung dicangkokkan Belanda ke iklim tropis Indonesia. Fasade datar tanpa beranda, jendela besar, atap dengan ventilasi kecil yang biasa terlihat di bagian tertua kota bertembok Belanda, juga digunakan seperti di Batavia lama (Widodo, J. dan YC. Wong 2002).
Menurut Sumintardja, (1978) VOC telah memilih Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan perdagangan mereka dan bangunan pertama dibangun di Batavia sebagai benteng Batavia. Di dalam benteng, dibangun rumah untuk koloni, memiliki bentuk yang sederhana seperti rumah asli di awal tapi belakangan diganti dengan rumah gaya Barat (untuk kepentingan politis). Dinding batu bata rumah, mereka mengimpor bahan langsung dari Belanda dan juga dengan atap genteng dan interior furniture. Rumah-rumah yang menjadi tradisi pertama rumah-rumah tanpa halaman, dengan bentukan memanjang seperti di Belanda sendiri. Rumah-rumah ini ada dua lantai, sempit di façade tapi lebar dalam. Rumah tipe ini selanjutnya banyak digunakan oleh orang-orang cina setelah orang Belanda beralih dengan rumah-rumah besar dengan halaman luas. Rumah-rumah ini disebut sebagai bentuk landhuizen atau rumah tanpa beranda dalam periode awal, setelah mendapat aklimatisasi dengan iklim setempat, rumah-rumah ini dilengkapi dengan beranda depan yang besar seperti di aula pendapa pada bangunan vernakular Jawa.
Pada awalnya, rumah-rumah ini dibangun dengan dua lantai, setelah mengalami gempa dan juga untuk tujuan efisiensi, kemudian rumah-rumah ini dibangun hanya dalam satu lantai saja. Tetapi setelah harga tanah menjadi meningkat, rumah-rumah itu kembali dibangun dengan dua lantai lagi.
Penentuan desain arsitektur menjadi lebih formal dan ditingkatkan setelah pembentukan profesi Arsitek pertama di bawah Dinas Pekerjaan Umum (BOW) pada 1814-1930. Sekitar tahun 1920-an 1930-an, perdebatan tentang masalah identitas Indonesia dan karakter tropis sangat intensif, tidak hanya di kalangan akademis tetapi juga dalam praktek. Beberapa arsitek Belanda, seperti Thomas Karsten, Maclaine Pont, Thomas Nix, CP Wolf Schoemaker, dan banyak lainnya, terlibat dalam wacana sangat produktif baik dalam akademik dan praksis. Bagian yang paling menarik dalam perkembangan Arsitektur modern di Indonesia adalah periode sekitar 1930-an, ketika beberapa arsitek Belanda dan akademisi mengembangkan sebuah wacana baru yang dikenal sebagai “Indisch-Tropisch” yaitu gaya arsitektur dan urbanisme di Indonesia yang dipengaruhi Belanda
Tipologi dari arsitektur kolonial Belanda; hampir bangunan besar luar koridor yang memiliki fungsi ganda sebagai ruang perantara dan penyangga dari sinar matahari langsung dan lebih besar atap dengan kemiringan yang lebih tinggi dan kadang-kadang dibangun oleh dua lapis dengan ruang yang digunakan untuk ventilasi panas udara.
Arsitek-arsitek Belanda mempunyai pendekatan yang baik berkaitan dengan alam di mana bangunan ditempatkan. Kesadaran mereka dapat dilihat dari unsur konstruksi orang yang sangat sadar dengan alam. Dalam Sumalyo (1993,): Karsten pada tahun 1936 dilaporkan dalam artikel: “Semarangse kantoorgebouwen” atau Dua Office Building di Semarang Jawa Tengah:
1. Pada semua lantai pertama dan kedua, ditempatkan pintu, jendela, dan ventilasi yang lebar diantara dia rentang dua kolom. Ruangan untuk tiap lantai sangat tinggi; 5, 25 m di lantai pertama dan 5 m untuk lantai dua. Ruangan yang lebih tinggi, jendela dan ventilasi menjadi sistem yang baik untuk memungkinkan sirkulasi udara di atap, ada lubang ventilasi di dinding atas (di atas jendela)
2. Disamping lebar ruang yang lebih tinggi, koridor terbuka di sisi Barat dan Timur meliputi ruang utama dari sinar matahari langsung.
Ketika awal urbanisasi terjadi di Batavia (Jakarta), ada begitu banyak orang membangun vila mewah di sekitar kota. Gaya arsitekturnya yang klasik tapi beradaptasi dengan alam ditandai dengan banyak ventilasi, jendela dan koridor terbuka banyak dipakai sebagai pelindung dari sinar matahari langsung. Di Bandung, Villa Isolla adalah salah satu contoh arsitektur yang baik ini (oleh Schoemaker1933)
Villa Isolla, salah satu karya arsitektur Belanda di Indonesia
Arsitektur Kontemporer Indonesia
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bangunan modern mengambil alih Indonesia. Kondisi ini berlanjut ke tahun 1970-an dan 1980-an ketika pertumbuhan eknomi yang cepat Indonesia yang mengarah pada program-program pembangunan besar-besaran di setiap sector mulai dari skema rumah murah, pabrik-pabrik, bandara, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit. Banyak proyek bergengsi yang dirancang oleh arsitek asing yang jarang diterapkan diri mereka untuk merancang secara khusus untuk konteks Indonesia. Seperti halnya kota-kota besar di dunia, terutama di Asia, sebagai korban dari globalisasi terlepas dari sejarah lokal, iklim dan orientasi budaya.
Rumah-rumah kontemporer di Indonesia
Arsitektur modern Indonesia umumnya mulai di sekitar tahun 50an dengan dominasi bentuk atap. Model bangunan era kolonial juga diperluas dengan teknik dan peralatan baru seperti konstruksi beton, AC, dan perangkat lift. Namun, sepuluh tahun setelah kemerdekaan, kondisi ekonomi di Indonesia belum cukup kuat. Sebagai akibat, bangunan yang kurang berkualitas terpaksa lahir. Semua itu sebagai upaya untuk menemukan arsitektur Indonesia modern, seperti halnya penggunaan bentuk atap joglo untuk bangunan modern.
Arsitektur perumahan berkembang luas pada tahun 1980-an ketika industri perumahan booming. Rumah pribadi dengan arsitektur yang unik banyak lahir tapi tidak dengan perumahan massal. Istilah rumah rakyat, rumah berkembang, prototipe rumah, rumah murah, rumah sederhana, dan rumah utama dikenal baik bagi masyarakat. Jenis ini dibangun dengan ide ruang minimal, rasional konstruksi dan non konvensional (Sumintardja, 1978)
Permasalahan untuk Arsitektur Indonesia
Gerakan-gerakan baru dalam arsitektur seperti Modernisme, Dekonstruksi, Postmodern, dll tampaknya juga diikuti di Indonesia terutama di Jawa. Namun, dalam kenyataannya, mereka menyerap dalam bentuk luar saja, bukan ide-ide dan proses berpikir itu sendiri. Jangan heran jika kemudian muncul pandangan yang dangkal; “Kotak-kotak adalah Modern, Kotak berjenjang adalah pasca Modern” (Atmadi, 1997). Arsitektur hanya hanya dilihat sebagai objek bukan sebagai lingkungan hidup.
Sumalyo, (1993) menyatakan bahwa pandangan umum arsitektur Barat: ‘Purism’, di mana untuk menunjuk Bentuk dan Fungsi, adalah berlawanan dengan konsep-konsep tradisi yang memiliki konteks dengan alam. Kartadiwirya, dalam Budihardjo (1989,) berpendapat, mengapa prinsip tropis ‘nusantara’ arsitektur jarang dipraktekkan di Indonesia adalah karena pemikiran dari proses perencanaan tidak pernah menjadi pemikiran. Mereka hanya hanya mengajarkan tentang perencanaan konvensional selama 35 tahun tanpa perubahan berarti sampai beberapa hari. Sayangnya hamper semua bahan pengajaran dalam arsitektur berasal dari cara berpikir Barat yang menurut Frick (1997) telah menghasilkan kelemahan arsitektur Indonesia. Dia juga menjelaskan bahwa Bahan menggunakan bangunan modern hanya karena alasan produksi massal yang lebih ‘Barat’ dan jauh dari tradisi setempat. Kondisi ini telah memicu penggunaan bahan yang tidak biasa dan tanpa kondisi lokal.
Blog Pribadi : http://rahmatarifin93.wordpress.com/
 
November 29th, 2012
 

Indonesia kaya akan ragam budayanya, baik dari suku, adat istiadat, sampai arsitektur rumah adatnya. Masing masing rumah adat memiliki history dan arti sendiri bagi tiap – tiap sukunya. Hingga saat ini masih terdapat rumah adat yang masih kokoh berdiri sejalan dengan perkembangan zaman, seperti halnya Rumah Adat Toraja yang terletak di Daerah Tana Toraja umumnya merupakan tanah pegunungan kapur dan batu alam dengan ladang dan hutan yang masih luas, dilembahnya terdapat hamparan persawahan.

Rumah Adat Toraja yang biasa disebut Baruang Tongkonan, tongkonan sendiri mempunyai arti tongkon “duduk“, tempat “an” bisa dikatakan tempat duduk, tetapi bukan tempat duduk arti yang sebenarnya melainkan, tempat orang di desa untuk berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah-masalah adat. Tongkonan sendiri bentuknya adalah rumah panggung yang dibangun dari kombinasi batang kayu dan lembaran papan. Kalau diamati, denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Material kayu dari kayu uru, sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kualitas kayunya cukup baik dan banyak ditemui di hutan-hutan di daerah Toraja. Kayu di biarkan asli tanpa di pelitur atau pernis. Rumah Toraja / Tongkonan ini dibagi menjadi 3 bagian: yang pertama kolong (Sulluk Banua), kedua ruangan rumah (Kale Banua) dan ketiga atap (Ratiang Banua). Pada bagian atap, bentuknya melengkung mirip tanduk kerbau. Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela kecil, tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin.

Melihat Latar belakang arsitektur rumah tradisional Toraja menyangkut falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari kebudayaan orang Toraja itu sendiri. Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang mengikat atau hal yang di haruskan dan tidak boleh di langgar, yaitu: Rumah harus menghadap ke utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi dalam 4 penjuru mata angin, yaitu:
1. Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada (keyakinan
masyarakat Toraja)
2. Timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan.
3. Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu
kesusahan atau kematian.
4. Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala sesuatu
yang tidak baik / angkara murka.

Keindahan yang tertanam dalam history Rumah Adat Toraja sangatlah perlu dijaga, begitupun halnya Rumah Adat lainnya’ sehingga tidak akan kelam dengan bermunculannya arsitektur rumah di zaman saat ini yang semakin modern, misalnya rumah dengan desain minimalis yang saat ini digandrungi sebagian besar masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kita sebagai generasi muda penerus bangsa patutlah membantu melestarikan history rumah adat tradisional disamping memperluas pengetahuan dalam menciptakan inovasi dalam bidang arsitektur dalam pembangunan rumah dengan desain modern. Sehingga keutuhan budaya Indonesia tetap terjaga dengan semestinya, menyeimbangkan sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan benar, serta dapat memperkenalkan eloknya tanah air Indonesia ini kepada generasi selanjutnya.

blog pribadi : http://bmokii.blogspot.com/2012/11/arsitektur-rumah-adat-toraja.html

 
November 28th, 2012
 

Sumba adalah sebuah pulau di kawasan timur Indonesia, adalah salah satu dari Kepulauan Sunda Kecil, dan di provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut mitos Sumba kuno, ketika rumah leluhur pertama dibangun pada bola langit kedelapan / muka bumi ini, atap ditutupi oleh rambut manusia asli yang diambil selama berburu kepala atau peperangan antar suju. Dijaman sekarang daun lering kelapa disimboliskan menggantikan rambut manusia tersebut.

Rumah tradisional Sumba dibangun dengan atap tinggi yang memuncak atasnya dengan balok kayu memproyeksikan di kedua ujungnya memegang sosok laki-laki dan perempuan yang terbuat dari kayu berukir atau rumput terikat. Balok kayu di atap diyakini pintu masuk untuk roh-roh nenek moyang untuk memasuki rumah dan memberikan berkat kepada keturunan mereka. Kehadiran Marapu di mana-mana di antara yang hidup dan rumah juga dilihat sebagai tempat yang penting pemujaan leluhur. Empat tiang kayu utama yang mendukung rumah dari kaki ke atas yang terkait erat dengan ritual pemujaan leluhur. Rak terbuat dari rotan dan kayu tergantung dari posting berfungsi sebagai altar persembahan. Pos depan pertama adalah tempat Rato, imam animisme, melakukan ritual nya ramalan dengan menerapkan semangat yang tepat untuk membimbingnya ke masa depan. Pilar depan kedua melambangkan nenek moyang perempuan. Sementara dua pilar belakang melambangkan nenek moyang laki-laki dan perempuan, serta roh kesuburan. Keempat pilar utama yang sering diukir dengan desain geometris yang sama yang menghiasi monumen batu yang ada di dan di sekitar desa. Di rumah ada yang menawarkan altar dimana benda suci disimpan Marapu. Hal ini dalam sudut yang dipilih dengan cermat rumah yang Rato membuat kontak dengan roh-roh selama upacara keagamaan. Ibadah dari kekuatan tak terlihat yang kuat adalah unsur yang lazim dalam budaya megalitik dan tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari Sumba. Seperti dalam banyak bentuk arsitektur sakral di Indonesia, rumah tidak hanya dilihat sebagai tempat tinggal belaka, itu dianggap sebagai simbol kosmos menghubungkan dunia ilahi dengan Manusia.

Meskipun rumah ini dianggap sebagai altar surgawi hidup di bumi, pemujaan leluhur juga umum di desa dan tempat lain yang membutuhkan berkat-berkat dari kekuatan tak terlihat. Stupa kecil yang dikenal sebagai Katoda ditempatkan di depan rumah, di pintu masuk desa, dan di sawah. Katoda juga dapat berupa cabang yang sederhana atau batu tegak undecorated hati-hati dipilih oleh Rato saat melakukan ritual tertentu.

blog : http://shineesa.wordpress.com/2012/11/28/arsitektur-rumah-adat-pulau-sumba/

Museum Fatahillah , Kota Tua 22 November 2012

Kota Tua adalah nama suatu tempat dari sekumpulan bangunan tua peninggalan Belanda pada zaman penjajahan. Dahulu Kota ini sangatlah indah pada zamannya dan arsitektur Belanda sangatlah kental di setiap bangunannya. Nah cerita dari Kota Tua itu sejarahnya tak lepas dari pada zaman penjajahan Belanda. Dahulu Kota Tua itu bernama Batavia Lama yang terletak di sebelah timur sunga Ciliwung dan Kota Tua ini mempunyai julukan “Mutiara dari Timur” dan “Ratu dari Timur” di mata para pedagang Eropa. Dilihat dari segi tema bangunannya, sangat jelas sekali kalau kota tua ini dibangun dengan menyesuaikan kota – kota yang ada di Belanda. Bangunan – bangunan ini memiliki jendela yang cukup banyak dengan gedung yang memanjang serta diatas atapnya terdapat sebuah menara seperti bangunan yang ada pada Belanda. Tiang – tiang penyangga hanya ada pada bagian depan bangunan atau teras bangunan. Untuk halaman dibuatlah blok – blok  batu seperti paving block namun ukurannya lebih besar yang mirip dengan gaya ala eropa. Biasanya bngunan – bangunan seperti ini terdiri lebih dari satu lantai dan biasanya juga digunakan untuk suatu pusat pemerintahan pada zamannya.

Kota tua sebenarnya terdiri dari beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Blok – blok ini ada yang terhubungi dengan adanya jembatan yang salah satunya sekarang dinamakan jembatan tarik kota intan. Sebenarnya wilayah Kota Tua itu sekarang ini yang masih tersisa bangunanya bisa diliat dari  Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Luar Batang, Kali Besar, Taman Fata­hillah dan Glodok. Bangunan – bangunan yang tersisa kini hanya sebagian saja yang masih terawat. Beberapa bangunan yang berpotensi untuk pariwisatapun hanya sedikit yang diperbaiki. Beberapa gedung yang rusak di Kota Tua ini di antaranya  Ge­dung Cipta Niaga di Jalan Pin­tu Besar Utara dan Gedung Jasindo di seberang Museum Fatahillah serta masih banyak gedung – gedung yang lainnya. Gedung – gedung yang masih tersisa ada yang dimanfaatkan, sebagai contoh Museum Fatahillah, Kantor Pos Indonesia, Museum Wayang dan ada beberapa lagi yang lainnya.

Sebagai Generasi muda sekarang ini peninggalan Kota Tua merupakan situs sejarah yang harus dilestarikan dan dijaga keutuhannya. Untuk menyuguhkan suatu kota sejarah kita juga bisa menambahkan aksesoris – aksesoris atau hiasan yang ada pada setiap bangunan yang menjadi tempat pariwisata. Kita bisa ambil contoh di Taman Fatahillah kita bisa menambahkan dekorasi seperti lampu jalan yang bisa diletakkan pada bagian jalan bangunan serta memberi tambahan taman yang bisa di posisikan pada bagian pinggir – pinggir batasan sungai. Untuk bangunannya sendiri kita bisa renovasi pada bagian yang sudah tua sekali dan untuk sisi kebersihan harusnya ada pembenahan pada sungai kanal yang kotor serta bangunan – bangunan kumuh yang tertelantarkan . Yang Paling penting adalah membuat bagaimana Kota Tua itu bisa dilihat sisi artistiknya tanpa meninggalkan unsur – unsur budaya Belanda. Dengan adanya kerjasama semua pihak bukan tidak mungkin Kota Tua akan menjadi tempat pariwisata yang sangat berpotensi menarik wisatawan mancanegara serta kita masih bisa mengenalkan situs sejarah ini pada anak cucu kita kelak.

blog pribadi: http://akbar-tompo.blogspot.com

Keragaman budaya di Indonesia bisa dilihat sekilas dari bandar udara. Memang  itu hanya berlaku bagi daerah yang mempunyai lapangan terbang.  Namun, setiap provinsi di Indonesia pasti sudah mempunyai bandara di ibukotanya. Saat penumpang datang dan pergi, budaya lokal pun sering terpajang di bandara. Ornamen atau bentuk bangunan pun menghiasinya.

Bandara: Simbol budaya atau modernisasi? (doc pribadi)

Reklame raksasa di Bandara Sultan Iskandar Muda (doc pribadi)

Bandara bak etalase yang bisa menjadi alat promosi daerah. Bandara pun dianggap sebagai gerbang utama yang bisa membentuk kesan pertama tentang sebuah kota atau daerah. Tidak mengherankan jika kita sering melihat berbagai ornamen, display, papan reklame, atau bentuk media promosi lainnya bertebaran di sekitar bandara.

Lorong saat sepi di badara Sultan Badaruddin Palembang (doc pribadi)

Lorong saat sepi di Bandara Palembang (doc pribadi)

Satu lorong di gerbang ibukota negara (doc pribadi)

Kesan baik atau buruk kadang terbersit saat pertama kali mendatangi kota atau daerah melalui bandaranya. Sering kita berdecak kagum dengan gaya arsitektur sebuah bandara. Namun, kekaguman tersebut tidak lantas membuat kita mengenal lebih dalam sebuah budaya lokal. Bahkan, apa nama atau makna sebuah simbol budaya di bandara pun kita tidak mengenalnya, atau setidaknya sudah melupakannya. Simbol-simbol budaya itu akhirnya memang sebatas pajangan dan hiasan belaka.

Lihatlah simbol rumah adat di Bandara Sepinggan Balikpapan (doc pribadi)

Ini Medan, Bung! (doc pribadi)

Posisi bandara yang dianggap penting membuat semua kota dan daerah berlomba-lomba untuk  memiliki bandara yang megah dan indah. Megah dan indah tidak harus besar dan luas. kesederhanaan pun bisa membuat kita terpana. Kecil pun bisa menarik. Ya, semua demi kebanggaan daerahnya. Namun, kebanggaan saja tidaklah cukup. Justru bisa jadi malah ada ironi di sana.

Ngurah Rai bebenah demi siapa? (doc pribadi)

Saat wisatawan berduyun-duyun datang karena daya tarik sebuah kota, apakah mereka hanya menikmati budaya sebagai sebuah tontonan belaka? Atau, jangan-jangan, bandara adalah gerbang modernisasi yang bisa menggerus budaya lokal. Prilaku dan gaya hidup wisatawan pun mulai menginfiltrasi budaya lokal.

Gerbang megah di Indonesia timur (doc pribadi)

Kapal Phinisi, semoga tidak tinggal pajangan di bandara (doc pribadi)

Fungsi bandara sebagai etalase tampaknya berhasil dalam mendatangkan gelimang uang. Namun, saat pendatang datang, apakah masih berlaku pepatah: “Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak“?

 
April 27th, 2012
 

Jakarta memang semakin menjulang. Hutan beton semakin membuat ibukota bak hutan belantara dengan tiang pancang makin membenam dan menghunjam tanah ibukota yang ruang publiknya makin langka. Setiap mata memandang, selalu terbentur dinding tinggi menjulang yang mengungkung Jakarta.

Lalu, seperti apa Jakarta saat dilihat dari ketinggian?

Jakarta makin menjulang

Read the rest of this entry »

 
December 21st, 2009
 

Sebuah monumen yang menjulang tinggi seolah menusuk angkasa , tegak berdiri dengan kokohnya serta berlatar gedung-gedung pencakar langit , tepat di titik terpusat ibu kota negri ini. inilah monumen nasional atau yang lebih kita kenal sebagai Monas yang juga menjadi simbol perjuangan rakyat indonesia dalam melawan penjajah dan merebut kemerdekaan.

Read the rest of this entry »

 
December 14th, 2009
 

Ke Taman Yuk? Masih ada toh taman di Jakarta? Ya itulah anggapan masyarakat Jakarta mengenai taman yang ada di Jakarta.

Read the rest of this entry »

« Previous EntriesNext Entries »