Blog komunitas Arsitektur Universitas Gunadarma

 
November 29th, 2012

Rumah Adat Nias mungkin kebanyakkan dari kita khususnya orang Indonesia yang kurang mengenali akan kekayaan budayanya sendiri, Akan sangat merasa asing dengan kata “OMO HADA”. Ya Omo Hada adalah sebutan untuk Rumah Adat Nias Utara, umumnya yang kita tau tentang apa adat atau kebudayaan dari Nias adalah Lompat Batu, padahal Nias memiliki rumah adat dengan karateristik dan arsitektur yang sangat mengagumkan.

Rumah di Nias adalah potret tradisi nenek moyang suku Nias yang secara rasional menyiasati ancaman dari alam sekaligus potensi alam dalam membina bangunan. Hasilnya adalah suatu karya yang sangat berani berekspresi dengan titik berat rancangan yang memenuhi kebutuhan bertinggal namun dengan niali estetika yang terlahir dari logika serta konstruksi dan geometri yang sederhana namun mengagumkan.

Rumah adat Nias atau lebih dikenal dengan sebutan Omohada saat ini memang sudah jarang ditemui. Karena akibat perkembangan zaman serta teknologi telah membuat jumlah Omohada yang bersejarah di Nias semakin sedikit. Seperti halnya kampung Bawamataluo di Nias Selatan. Kampung Bawamataluo adalah sebuah kampung yang memiliki banyak rumah adat Nias Selatan yang masih asli. Karena perkembangan zaman saat ini rumah adat yang ada di sana sudah termodernisasi. Sangat disayangkan memang jika dilihat kampung tersebut sebenarnya bisa dijadikan sebagai warisan budaya dunia jika tetap mempertahankan keaslian rumah adatnya.

Tujuan sebenarnya untuk penulisan ini adalah agar kita para kaum muda lebih mencintai dan perduli akan budaya budaya yang ada di tanah airnya sendiri, dan sekaligus untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Nias yaitu dari sisi rumah adatnya.

Rumah adat Nias atau lebih dikenal dengan sebutan Omohada saat ini memang sudah jarang ditemui. Karena akibat perkembangan zaman serta teknologi telah membuat jumlah Omohada yang bersejarah di Nias semakin sedikit. Seperti halnya kampung Bawamataluo di Nias Selatan. Kampung Bawamataluo adalah sebuah kampung yang memiliki banyak rumah adat Nias Selatan yang masih asli. Karena perkembangan zaman saat ini rumah adat yang ada di sana sudah termodernisasi. Sangat disayangkan memang jika dilihat kampung tersebut sebenarnya bisa dijadikan sebagai warisan budaya dunia jika tetap mempertahankan keaslian rumah adatnya.

Tujuan sebenarnya untuk penulisan ini adalah agar kita para kaum muda lebih mencintai dan perduli akan budaya budaya yang ada di tanah airnya sendiri, dan sekaligus untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Nias yaitu dari sisi rumah adatnya.

Rumah adat di Nias dibuat dengan ukuran lebih kecil dari rumah-rumah adat aslinya, adalah mewakili rumah adat dari Nias Selatan. Rumah yang berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas tiang ini menyerupai bentuk perahu. Begitu pula pola perkampungan, hiasan-hiasan bahkan peti matinya pun berbentuk perahu. Dengan bentuk rumah seperti perahu ini diharapkan bila terjadi banjir maka rumah dapat berfungsi sebagai perahu. Untuk memasuki rumah adat ini terlebih dahulu menaiki tangga dengan anak tangga yang selalu ganjil 5 – 7 buah, kemudian memasuki pintu rumah yang ada dua macam yaitu seperti pintu rumah biasa dan pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka ke atas. Pintu masuk seperti ini mempunyai maksud untuk menghormati pemilik rumah juga agar musuh sukar menyerang ke dalam rumah bila terjadi peperangan.

Ruangan pertama adalah Tawalo yaitu berfungsi sebagai ruang tamu, tempat bermusyawarah, dan tempat tidur para jejaka. Seperti diketahui pada masyarakat Nias Selatan mengenal adanya perbedaan derajat atau kasta dikalangan penduduknya, yaitu golongan bangsawan atau si Ulu, golongan pemuka agama atau Ene, golongan rakyat biasa atau ono embanua dan golongan Sawaryo yaitu budak.
Di bagian ruang Tawalo sebelah depan dilihat jendela terdapat lantai bertingkat 5 yaitu lantai untuk tempat duduk rakyat biasa, lantai ke 2 bule tempat duduk tamu, lantai ketiga dane-dane tempat duduk tamu agung, lantai keempat Salohate yaitu tempat sandaran tangan bagi tamu agung dan lantai ke 5 harefa yakni untuk menyimpan barang-barang tamu. Di belakang ruang Tawalo adalah ruang Forema yaitu ruang untuk keluarga dan tempat untuk menerima tamu wanita serta ruang makan tamu agung. Di ruang ini juga terdapat dapur dan disampingnya adalah ruang tidur.

Rumah adat Nias biasanya diberi hiasan berupa ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan diukirkan pada balok-balok utuh. Seperti dalam ruangan Tawalo yang luas itu interinya dihiasi ukiran kera lambang kejantanan, ukiran perahu-perahu perang melambangkan kekasaran. Dahulu, di ruangan ini juga digantungkan tulang-tulang rahang babi yang berasal dari babi-babi yang dipotong pada waktu pesta adat dalam pembuatan rumah tersebut.
Menurut cerita, di ruangan ini dahulu digantungkan tengkorak kepala manusia yang dipancumg untuk tumbal pendirian rumah. Tapi setelah Belanda datang, kebiasaan tersebut disingkirkan. Untuk melengkapi ciri khas adat istiadat Nias adalah adanya batu loncat yang disebut zawo-zawo. Bangunan batu ini dibuat sedemikian rupa untuk upacara lompat batu bagi laki-laki yang telah dewasa dalam mencoba ketangkasannya.

Omo hada asli tidak menggunakan paku, melainkan pena dan pasak kayu, sebagaimana rumah knock down atau bongkar pasang. Bahan kayu yang digunakan merupakan pilihan, diperoleh dari hutan-hutan di Nias. “Sekarang susah mencari kayu-kayu pilihan untuk membangun rumah adat, sudah habis dari hutan,” ungkap Zebua. Syukurlah, rumbia untuk atap rumah masih dapat dibuat dari nyiur sehingga bumbungannya tetap tampak unik. Bumbungan kelihatan jadi semakin unik dengan adanya satu hingga dua tuwu zago, yaitu jendela di bagian atap sebagai ventilasi dan sumber cahaya bagi rumah. Tuwu zago ini terdapat di atap bagian depan dan belakang bumbungan.

Tiang Kayu dan Simbol Omo Hada
Setiap omo hada memiliki enam tiang utama yang menyangga seluruh bangunan. Empat tiang tampak di ruang tengah rumah, sedang dua tiang lagi tertutup oleh papan dinding kamar utama. Dua tiang di tengah rumah itu disebut simalambuo berupa kayu bulat yang menjulang dari dasar hingga ke puncak rumah. Dua tiang lagi adalah manaba berasal dari pohon berkayu keras dipahat empatsegi, demikian pula dua tiang yang berada di dalam kamar utama. Setiap tiang mempunyai lebar dan panjang tertentu satu dengan lainnya. “Semakin lebar jarak antara tiang simalambuo dengan tiang manaba maka semakin berpengaruhlah si pemilik rumah,” ungkap Ya’aro Zebua lagi.

Rumah-rumah adat di Nias juga tidak memiliki jendela. Sekelilingnya hanya diberi teralis kayu tanpa dinding sehingga setiap orang di luar rumah dapat mengetahui siapa yang berada di dalamnya. Menurut Zebua, desain ini menandakan orang Nias bersikap terbuka, jadi siapapun di desa dapat mengetahui acara-acara di dalam rumah, terutama yang berkaitan dengan adat dan masalah masyarakat setempat. Biasanya pemilik rumah bersama ketua adat duduk di bangku memanjang di atas lantai yang lebih tinggi—disebut sanuhe—sambil bersandar ke kayu-kayu teralis, sedangkan yang lainnya duduk di lantai lebih rendah atau disebut sanari. Setiap acara adat akan berlangsung di dalam rumah, terlebih dulu seisi kampung diundang dengan membunyikan faritia (gong) yang tergantung di tengah rumah. Faritia di rumah adat Nias Selatan dilengkapi oleh fondrahi, yaitu tambur besar sebagaimana terlihat di omo sebua—rumah besar untuk raja dan bangsawan—di Desa Bawomatoluo, Teluk Dalam.

Segi artistik juga menjadi perhatian dalam pembangunan omo hada. Banyak kayu-kayu berukir menghias interior dan eksterior rumah. Ini menandakan orang Nias mempunyai rasa seni tinggi.

Kayu Elastis Menahan Gempa
Mengapa omo hada tak rubuh saat gempa? Ya’aro Zebua mengatakan kayu-kayu yang digunakan untuk rumah mereka bersifat elastis. ” Jadi saat gempa rumah pun ‘main’ [ikut bergerak] sesuai guncangan bumi.” Tetapi, diakuinya, gerakan-gerakan itu telah membuat posisi tiang-tiang rumah bergeser sehingga tampak miring. Selain itu, dia mengungkapkan, umumnya atap di puncak bumbungan mengalami kerusakan walaupun tak begitu berarti.

Rumah-rumah di Nias bagian utara, seperti Desa Tumori, umumnya disangga oleh balok-balok kayu berbentuk letter X yang disebut diwa. Diwa menahan lantai rumah di bagian kolong, selain ada pula siloto yang berupa kayu panjang yang menempel di bagian bawah papan lantai rumah tersebut. Siloto langsung menahan lantai rumah, dan merupakan bagian kayu yang paling elastis. Ada juga gohomo, yaitu kayu-kayu yang tegak lurus menopang dan memagari seluruh kolong rumah sehingga omo hada semakin kokoh sekaligus elastis. Gohomo berada di bagian terluar pada kolong rumah, sedangkan siloto dan diwa berada di bagian dalamnya.

Sebagian orang Nias memang sudah tidak begitu banyak yang memperhatikan keberadaan Omohada Nias yang masih asli. Namun warisan budaya tanah air ini bukalah hanya milik Nias api milik Indonesia dan sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan warisan tanah aor kita ini, sangat memperihatinkan keadaan akan kesadarn cinta akan budaya negara sendiri oleh masyarakatnya. Padahal, orang asing di luar negeri sangat mengagumi arsitektur Omohada Nias. Salah satu buktinya adalah pengakuan seorang Arsitek dunia Alain M. Viaro dan Arletta Ziegler dalam bukunya berjudul “Traditional Architecture of Nias Island” mengakui bahwa arsitektur rumah tradisional Nias merupakan satu-satunya arsitektur rumah tahan gempa yang terdapat di dunia ini. Dan ini memang terbukti, ketika gempa berskala besar melanda kepulauan Nias tahun 2005 yang lalu, rumah-rumah adat Nias yang masih asli tetap kokoh berdiri.

Masih belum terlambat untuk menyelamatkan warisan budaya ini, dukungan masyarakat maupun pemerintah sangat diharapkan dalam melestarikannya. Karena kita tidak bisa menuntut pemilik Rumah Adat Nias yang masih asli untuk tetap mempertahankan keaslian rumahnya, apabila kita dan pemerintah tidak mengulurkan tangan dalam memberikan biaya perawatan yang tidak sedikit jumlahnya. Pelestarian rumah adat Nias bukan hanya tanggung jawab pemilik rumah, tapi tanggung jawab kita bersama dalam merawat dan mempertahankan keasliannya.

Negara kita yang begitu kaya akan keanekaragaman suku, adat istiadat serta budaya yang sangat disayangkan jika kita tidak mencintai keunikkan negara kita, hanya di negara kita meskipun terdapat banyak perbedaan antar culutre tapi masih tetap bersatu dan tetap mencintai Indonesia. Cintailah negaramu hargailah negaramu lestarikan budayamu karna perbedaan adalah suau hal yang kuat untuk negara ini, jangan pernah membenci apapun yang ada dalam negri ini, dalam negri ini adalah surganya dunia dimana begitu banyak hal-hal bersejarah keanekaragaman flora dan fauna yang hanya bisa dilihat di negara ini. Cintailah negrimu sebelum terlambat.

Tags:

Leave a Reply

Security Code: