Blog komunitas Arsitektur Universitas Gunadarma

Archive for the ‘ Perancangan Arsitektur ’ Category

 
Sunday, April 29th, 2012

Keragaman budaya di Indonesia bisa dilihat sekilas dari bandar udara. Memang  itu hanya berlaku bagi daerah yang mempunyai lapangan terbang.  Namun, setiap provinsi di Indonesia pasti sudah mempunyai bandara di ibukotanya. Saat penumpang datang dan pergi, budaya lokal pun sering terpajang di bandara. Ornamen atau bentuk bangunan pun menghiasinya.

Bandara: Simbol budaya atau modernisasi? (doc pribadi)

Reklame raksasa di Bandara Sultan Iskandar Muda (doc pribadi)

Bandara bak etalase yang bisa menjadi alat promosi daerah. Bandara pun dianggap sebagai gerbang utama yang bisa membentuk kesan pertama tentang sebuah kota atau daerah. Tidak mengherankan jika kita sering melihat berbagai ornamen, display, papan reklame, atau bentuk media promosi lainnya bertebaran di sekitar bandara.

Lorong saat sepi di badara Sultan Badaruddin Palembang (doc pribadi)

Lorong saat sepi di Bandara Palembang (doc pribadi)

Satu lorong di gerbang ibukota negara (doc pribadi)

Kesan baik atau buruk kadang terbersit saat pertama kali mendatangi kota atau daerah melalui bandaranya. Sering kita berdecak kagum dengan gaya arsitektur sebuah bandara. Namun, kekaguman tersebut tidak lantas membuat kita mengenal lebih dalam sebuah budaya lokal. Bahkan, apa nama atau makna sebuah simbol budaya di bandara pun kita tidak mengenalnya, atau setidaknya sudah melupakannya. Simbol-simbol budaya itu akhirnya memang sebatas pajangan dan hiasan belaka.

Lihatlah simbol rumah adat di Bandara Sepinggan Balikpapan (doc pribadi)

Ini Medan, Bung! (doc pribadi)

Posisi bandara yang dianggap penting membuat semua kota dan daerah berlomba-lomba untuk  memiliki bandara yang megah dan indah. Megah dan indah tidak harus besar dan luas. kesederhanaan pun bisa membuat kita terpana. Kecil pun bisa menarik. Ya, semua demi kebanggaan daerahnya. Namun, kebanggaan saja tidaklah cukup. Justru bisa jadi malah ada ironi di sana.

Ngurah Rai bebenah demi siapa? (doc pribadi)

Saat wisatawan berduyun-duyun datang karena daya tarik sebuah kota, apakah mereka hanya menikmati budaya sebagai sebuah tontonan belaka? Atau, jangan-jangan, bandara adalah gerbang modernisasi yang bisa menggerus budaya lokal. Prilaku dan gaya hidup wisatawan pun mulai menginfiltrasi budaya lokal.

Gerbang megah di Indonesia timur (doc pribadi)

Kapal Phinisi, semoga tidak tinggal pajangan di bandara (doc pribadi)

Fungsi bandara sebagai etalase tampaknya berhasil dalam mendatangkan gelimang uang. Namun, saat pendatang datang, apakah masih berlaku pepatah: “Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak“?

 
Monday, December 14th, 2009

Ke Taman Yuk? Masih ada toh taman di Jakarta? Ya itulah anggapan masyarakat Jakarta mengenai taman yang ada di Jakarta.

(more…)

 
Thursday, May 29th, 2008

(more…)