Blog komunitas Arsitektur Universitas Gunadarma

Archive for the ‘ Lomba November 2012 ’ Category

 
Wednesday, November 28th, 2012

Sumba adalah sebuah pulau di kawasan timur Indonesia, adalah salah satu dari Kepulauan Sunda Kecil, dan di provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut mitos Sumba kuno, ketika rumah leluhur pertama dibangun pada bola langit kedelapan / muka bumi ini, atap ditutupi oleh rambut manusia asli yang diambil selama berburu kepala atau peperangan antar suju. Dijaman sekarang daun lering kelapa disimboliskan menggantikan rambut manusia tersebut.

Rumah tradisional Sumba dibangun dengan atap tinggi yang memuncak atasnya dengan balok kayu memproyeksikan di kedua ujungnya memegang sosok laki-laki dan perempuan yang terbuat dari kayu berukir atau rumput terikat. Balok kayu di atap diyakini pintu masuk untuk roh-roh nenek moyang untuk memasuki rumah dan memberikan berkat kepada keturunan mereka. Kehadiran Marapu di mana-mana di antara yang hidup dan rumah juga dilihat sebagai tempat yang penting pemujaan leluhur. Empat tiang kayu utama yang mendukung rumah dari kaki ke atas yang terkait erat dengan ritual pemujaan leluhur. Rak terbuat dari rotan dan kayu tergantung dari posting berfungsi sebagai altar persembahan. Pos depan pertama adalah tempat Rato, imam animisme, melakukan ritual nya ramalan dengan menerapkan semangat yang tepat untuk membimbingnya ke masa depan. Pilar depan kedua melambangkan nenek moyang perempuan. Sementara dua pilar belakang melambangkan nenek moyang laki-laki dan perempuan, serta roh kesuburan. Keempat pilar utama yang sering diukir dengan desain geometris yang sama yang menghiasi monumen batu yang ada di dan di sekitar desa. Di rumah ada yang menawarkan altar dimana benda suci disimpan Marapu. Hal ini dalam sudut yang dipilih dengan cermat rumah yang Rato membuat kontak dengan roh-roh selama upacara keagamaan. Ibadah dari kekuatan tak terlihat yang kuat adalah unsur yang lazim dalam budaya megalitik dan tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari Sumba. Seperti dalam banyak bentuk arsitektur sakral di Indonesia, rumah tidak hanya dilihat sebagai tempat tinggal belaka, itu dianggap sebagai simbol kosmos menghubungkan dunia ilahi dengan Manusia.

Meskipun rumah ini dianggap sebagai altar surgawi hidup di bumi, pemujaan leluhur juga umum di desa dan tempat lain yang membutuhkan berkat-berkat dari kekuatan tak terlihat. Stupa kecil yang dikenal sebagai Katoda ditempatkan di depan rumah, di pintu masuk desa, dan di sawah. Katoda juga dapat berupa cabang yang sederhana atau batu tegak undecorated hati-hati dipilih oleh Rato saat melakukan ritual tertentu.

blog : http://shineesa.wordpress.com/2012/11/28/arsitektur-rumah-adat-pulau-sumba/

 
Tuesday, November 27th, 2012
Museum Fatahillah , Kota Tua 22 November 2012

Kota Tua adalah nama suatu tempat dari sekumpulan bangunan tua peninggalan Belanda pada zaman penjajahan. Dahulu Kota ini sangatlah indah pada zamannya dan arsitektur Belanda sangatlah kental di setiap bangunannya. Nah cerita dari Kota Tua itu sejarahnya tak lepas dari pada zaman penjajahan Belanda. Dahulu Kota Tua itu bernama Batavia Lama yang terletak di sebelah timur sunga Ciliwung dan Kota Tua ini mempunyai julukan “Mutiara dari Timur” dan “Ratu dari Timur” di mata para pedagang Eropa. Dilihat dari segi tema bangunannya, sangat jelas sekali kalau kota tua ini dibangun dengan menyesuaikan kota – kota yang ada di Belanda. Bangunan – bangunan ini memiliki jendela yang cukup banyak dengan gedung yang memanjang serta diatas atapnya terdapat sebuah menara seperti bangunan yang ada pada Belanda. Tiang – tiang penyangga hanya ada pada bagian depan bangunan atau teras bangunan. Untuk halaman dibuatlah blok – blok  batu seperti paving block namun ukurannya lebih besar yang mirip dengan gaya ala eropa. Biasanya bngunan – bangunan seperti ini terdiri lebih dari satu lantai dan biasanya juga digunakan untuk suatu pusat pemerintahan pada zamannya.

Kota tua sebenarnya terdiri dari beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Blok – blok ini ada yang terhubungi dengan adanya jembatan yang salah satunya sekarang dinamakan jembatan tarik kota intan. Sebenarnya wilayah Kota Tua itu sekarang ini yang masih tersisa bangunanya bisa diliat dari  Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Luar Batang, Kali Besar, Taman Fata­hillah dan Glodok. Bangunan – bangunan yang tersisa kini hanya sebagian saja yang masih terawat. Beberapa bangunan yang berpotensi untuk pariwisatapun hanya sedikit yang diperbaiki. Beberapa gedung yang rusak di Kota Tua ini di antaranya  Ge­dung Cipta Niaga di Jalan Pin­tu Besar Utara dan Gedung Jasindo di seberang Museum Fatahillah serta masih banyak gedung – gedung yang lainnya. Gedung – gedung yang masih tersisa ada yang dimanfaatkan, sebagai contoh Museum Fatahillah, Kantor Pos Indonesia, Museum Wayang dan ada beberapa lagi yang lainnya.

Sebagai Generasi muda sekarang ini peninggalan Kota Tua merupakan situs sejarah yang harus dilestarikan dan dijaga keutuhannya. Untuk menyuguhkan suatu kota sejarah kita juga bisa menambahkan aksesoris – aksesoris atau hiasan yang ada pada setiap bangunan yang menjadi tempat pariwisata. Kita bisa ambil contoh di Taman Fatahillah kita bisa menambahkan dekorasi seperti lampu jalan yang bisa diletakkan pada bagian jalan bangunan serta memberi tambahan taman yang bisa di posisikan pada bagian pinggir – pinggir batasan sungai. Untuk bangunannya sendiri kita bisa renovasi pada bagian yang sudah tua sekali dan untuk sisi kebersihan harusnya ada pembenahan pada sungai kanal yang kotor serta bangunan – bangunan kumuh yang tertelantarkan . Yang Paling penting adalah membuat bagaimana Kota Tua itu bisa dilihat sisi artistiknya tanpa meninggalkan unsur – unsur budaya Belanda. Dengan adanya kerjasama semua pihak bukan tidak mungkin Kota Tua akan menjadi tempat pariwisata yang sangat berpotensi menarik wisatawan mancanegara serta kita masih bisa mengenalkan situs sejarah ini pada anak cucu kita kelak.

blog pribadi: http://akbar-tompo.blogspot.com