Blog komunitas Arsitektur Universitas Gunadarma

Keragaman budaya di Indonesia bisa dilihat sekilas dari bandar udara. Memang  itu hanya berlaku bagi daerah yang mempunyai lapangan terbang.  Namun, setiap provinsi di Indonesia pasti sudah mempunyai bandara di ibukotanya. Saat penumpang datang dan pergi, budaya lokal pun sering terpajang di bandara. Ornamen atau bentuk bangunan pun menghiasinya.

Bandara: Simbol budaya atau modernisasi? (doc pribadi)

 
October 20th, 2014
 

Secara tidak langsung pekerjaan senagai seorang arsitek adalah pekerjaan yang mau tak mau harus berhadapan langsung dengan lingkungan, tentu saja pekerjaan yg berhdapan langsung dengan lingkungan ini hanya memiliki dua kemingkinan memperbaiki atau justru malah merusak. Itulah mengapa pekerjaan arsitek ini mnjadi salah satu penyebab kerusakan alam dan lingkungan. Sebelum membahas lebih kompleks dan jauh ada baiknya kita mengenal apa itu lingkunngan, lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lalu apa kaitannya dengan arsitek itu sendiri ? Jelas sangat berkaitan, arsitek sendiri ialah orang yang bekerja dalam bidang ini, dia yang mengolah lingkungan menjadi lingkungan yang baru sehingga menjadi layak dan pantas untuk seseorang melakukan suatu aktifitas sesuai dengan kebutuhan dan fungsi lingkungan yang telah diperbaharui. Jadi sebenarnya arsitek yang hebat ialah arsitek yang mampu mengolah lingkungan yang telah tidak layak atau kurang layak menjadi lingkungan baru yg lebih layak dan pantas untuk sebuah aktifitas tertentu tanpa mengubah ciri atau inti dari lingkungan itu, misal jika kita ingin membuat sebuah hunian yang berada di lingkungan perhutanan ada baiknya kita mengambil dan menyesuaikan konsep  dengan hutan itu sendiri, jangan malah merusakdan membabat habis hutan yang ada sehingga bebas membuat hunian semau anda, ga bisa seperti itu mas, situ enak dapet hunian nah daerah sekitar siap banjir kekurangan daerah hijau dan resapan. Bukan hanya seperti itu, tapi ada beberapa hal lain juga yang patut dan meski diperhatikan dalam hubungannya dengan pembangunan sebuah hunian atau sejenisnya jika kaitannya dengan lingkungan, seperti mentaati peraturan yang telah ditentukan mengenai daerah hijau dan resapan, pengunaan bahan-bahan anti resapan seperti semen, aspal, dan sejenisnya, terlebih untuk dasar hunian ini harus diperhatikan, harus ditekan seminim mungkib, ini dapat mengurangi daerah resapan sehingga pemakainnya harus sangat diperhatikan, kemudiaan membuat hunian dengan banyak bukaan dan ventilasi ini juga dapat mengurangi tingkat pemborosan daya yang dampak tingkat lanjutnya dapat berdampak pada lingkungan. Mengapa semua itu harus diperhatikan ? Kalian pernah melihat banjir diibu kota ? Itu salah satu akibat dari tidak diperhatikannya kaidah dalam pengolahan sebuah yang baik dan benar, yang penting jadi, yang penting ada bangunannya, yang penting uang, jika semua kaidah dan aturan pemberdayaan lingkungan diabaikan tinggal menunngu sampai dunia ini benar-benar musnah karena ulah kita sendiri. Secara tidak langsung, kalian sadar bahwa pekerjaan yang menyangkut dunia arsitek itu adalah pekerjaan penyumbang terbesar akan kerusakan lingkungan, bisa dikatakan ya pekerjaan arsitek itu perusak. Kenapa ? Dengan membangun sebuah hunian berbahan bata atau sejenis itu saja sudah merusak, mengapa ? Bayangkan !! Bata yang kalian dapat itu dari mana ? Bahan dasarnya apa ? TANAH !! Tanah itu didapat dari mana ? Secara tidak langsung kalian para arsitek telah melubangi bumi anugerah Tuhan demi alaan komersil, kalian pikir rumah, apartement, atau hotel yang kalian pikir setimpal harganya untuk mengganti lubang yang telah kalian buat ?! TIDAK !! Kerusakan yang kalian perbuat itu tidak dapat disebandingkan dengan hotel atau apapun itu yg kalian buat, harganya tidak lah pantas atas kerusakan yg kalian buat.
Arsitek telah banyak merusak lingkungan jangan sampai kita juga yang jadi penghancur lingkungan. Maka dari itu pemilihan bahan, efisiensi dan penataan sumber-sumber energi harus benar-benar dan sangat diperhatikan, sebagai seorang arsitek kita harus sadar, kritis dan cinta lingkungan dulu baru mulai merancang, jangan samapai hanya demi komersil kita menjadi salah satu penyebab hancurnya dunia ini. Peran Arsitek sebagai tangan kedua Tuhan harusnya terpancar, kita sebagai arsitek merupakan tangan kedua Tuhan, kita orang-orang terpilih yang Tuhan percaya. Tuhan mempercayakan kepada kita dunia ini, melalui tangan kita Tuhan mempercayakan dunia ini agar kita dapat bangun dan jadikan lebih indah, citra kita sebagai Second Hand Of God itu nyata dan benar adanya, maka jangan pernah rusak kepercayaan Tuhan atas kita orang-orang terpilih. Tentu saja dalam pelaksanaan ada yang benar mempertimbangkan secara matang kaidah dan aturan yang telah ada dan tahu akan batasan yang boleh atau tidak dilewti, ini merupakan beberapa contoh dari arsitek yang benar paham tudasnya sebagai arsitek dan juga ada pengusaha yang bertopeng arsitek yang tega merusak lingkungannya sendiri.

Jika di mesir memiliki piramida kita juga punya Borobudur, jika di eropa banyak rumah serba mewah  dan minimalis kita punya rumah adat yang super praktis dan naturalis, soal daya tahan, fungsi dan kekuatan, bangunan asli nenek moyang kita berani kok diadu, soal estetikanya bagaimana ? coba tengok yg satu ini deh.

Rumah adat Toraja (TMII)

Apa yang menjadi dasar nenek moyang kita membuat rumah yang begitu hebat itu ? Terus mengapa setiap langgam antar satu daerah mempunyai kekhasan dan keunikan masing-masing ? Kali ini saya akan coba kupas semua itu menurut analisa, sudut pandang, dan kajian ilmu sebagai seorang mahasiswa arsitektur sekaligus sebagai warga Indonesia yang cinta terhadap negerinya. Rumah adat Indonesia ini merupakan warisan beradab-abad lalu oleh para nenek moyang kita, pada mulanya manusia menciptakan sebuah hunian itu sebagai tempat beristirahat dan berlindung dari serangan hewan buas, cuaca, dan lainnya. Tidak dapat dipungkiri nenek moyang kita pun pasti demikian, mulai dari bersembunyi di gua, menumpuk jerami, membuat gubuk dari batang dan daun, hingga membuat rumah hunian yang begitu mempesona. Semua bukan semata-mata langsung jadi dan bisa secara langsung dibentuk begitu saja, butuh proses, butuh waktu yang panjang untuk mencapai ke tahap jati diri arsitektur Indonesia itu sendiri. “Trial & Error”. Tentu saja proses ini tak akan pernah lepas dari kegiatan arsitektur vernakuler Indonesia. Mencoba, mencoba, coba dan coba, mungkin ketika awal membuat tidak seperti apa yang nenek moyang kita inginkan, dari bentuk, ukuran, fungsi, langgam, dan estetikanya tidak mungkin sekonyong-konyong matang dan benar seperti sekarang. Gagal, yang kemudian terus digali oleh para penerus-penerusnya, karena sejatinya arsitektur Indonesia itu arsitek vernakuler sejati, meski mustahil semua rumah keren kita dibuat tanpa skema dan aturan gambar baku yg jelas, tapi inilah faktanya, kerja sama, gotong toyong dan saling percaya kunci dari keberhasilan arsitek vernakuler Indonesia sekarang ini. Mereka kerja dari mulut ke mulut, zaman dahulu jika salah seorang keturunan dari sebuah desa telah layak untuk membina keluarga pasti seluruh warga desa datang dan bersama membangunkan sebuah hunian yang pantas dan layak bagi pasangan ini tanpa skema desain gambar dan sistem kerja yang benar-benar jelas, mereka meraba-reaba, mencoba-coba dan berintuisi, ini !! Inilah dasar dan kunci perkembangan arsitektur vernakuler Indonesia kearah yang lebih matang seperti sekarang ini. Jika di German punya pemiikiran matang dan kecerdasaan dalam meruang, di Indonesia kita punya hati dan ketulusan. Desain ? Struktur ? Estetika ? Saya berani adu rumah-rumah adat kita dengan semua gedung pecakar langit mereka terbaik mereka. Bagaimana mungkin ada rumah adat di Indonesia yang dibuat tanpa paku, lem, dan sejenisnya ?! Pure kayu !! Kurang hebat apa ? Ini daerah rawan gempa loh, tapi lihat rumah-rumah dipedalaman Indonesia ? roboh ?! Kokoh berdiri menantang langit !! intinya arsitek kita itu tidak kalah dengan mereka yang ngaku-ngaku arsitek bertaraf internasional. Langgam dan corak dari bangunan negeri kita sangat beragam, ini muncul akibat perbedaan kebudayaan, perbedaan lingkungan, alam pembentuk, dan kepercayaan, tapi intinya tetap satu, natural, kokoh, dan fungsional. Banga ?! Ya tentu saya bangga !! Indonesia itu keren banget pokoknya !! Tapi ada yang sangat saya sayangkan dan sesalkan, kita punya historis hebat, kita punya semngat, kita punya cara, kita punya banyak ilmu, kita punya segalanya yang seharusnya bisa membuat nama Indonesia naik kepermukaan persaingan dunia, tapi kenpa mereka terbawa arus ? Kenapa kalian kebarat-baratan ? bahkan kecorak negeri lain ? Kita punya batik yang coraknya mempesona, tp kenapa ga pernah ada anak muda yang tertarik dan bangga ? Padahal tahukah kalian ? kita dahulu dijajah, harga diri ditindas, identitas dipangkas, dahulu kita tidak tahu Indonesia itu apa ? negara ? bangsa ? atau sejenisnya !! Tapi sekarang seharusnya kita bebas, seharusnya kebebasan ini dimanfaatkan untuk mengungkapkan dan memberitahu dunia bahwa kita semua ini yang disebut indonesia. Seperi yang telah saya kemukakan tadi, butuh waktu beradab-abad untuk menyempurnakan arsitektur Indonesia itu sendiri, dan tahukah kalian ? Sekarang ini adalah puncak kesempurnaan dari arsitektur indonesia, waktu , usahan, pemikiran dan historis para pendahulu kita telah benar-benar tersalur pada masa sekarang ini, inilah cita-cita dari arsitektur Indonesia itu sendiri, ini yang di idam-idamkan para pendahulu kita, tapi dimasa kejayaan ini semua seolah tak peduli, kemana para penerus kita, kemana orang yang harusnya melanjutkan kejayaan dan kesempurnaan ini. kenapa saat semua ini menuju kearah yang lebih baik kita malah melupakannya dengan dalih kuno ?! Kuno dan modern itu bukan lah kalimat berkontradiktif, kuno itu cara hidup modern itu pemikiran, jelas hal yang berbeda. Ayolah !! Saat arsitektur Indonesia sedang melangkah maju, kenapa kita harus berhenti sampai disini ?!

Ini ada beberapa contoh lain dari rumah Indonesia yang saya abadikan ketika mengunjungi museum rumah adat terbesar di Indonesia (TMII)

Rumah adat Bugis (TMII)Patung dari kalimantan (TMII)

Rumah adat dari kalimantan

Masih banyak yg lebih keren dari ini, kalian cari tau sendiri, karena kalian sendiri yang harusnya memupuk rasa nasionalisme kalian. :)

 
November 4th, 2013
 

http://muchammadekodarwanto.blogspot.com/2012/11/rumah-adat-toraja-tongkonan.html

Rumah Adat Toraja (Tongkonan)

Rumah Adat Toraja atau yang biasa disebut dengan Tongkonan, kata tongkonan sendiri berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkupulnya bangsawan toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga memiliki fungsi sosial budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Masyarakat Suku Toraja menganggap rumah tongkonan itu sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) dianggap sebagai bapak.

Rata-rata rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, menghadap ke arah Puang Matua sebutan bagi orang Toraja kepada Tuhan YME dan untuk menghormati leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di dunia.

Di daerah Tana Toraja pada umumnya merupakan tanah pegunungan batu alam dan kapur dengan ladang dan hutan yang masih luas, dilembahnya itu terdapat hamparan persawahan.

Rumah Tongkonan adalah rumah panggung yang dibangun atau didirikan dari kombinasi lembaran papan  dan batang kayu. Kalau dilihat, denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Material kayu dari kayu uru, yaitu sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kayu uru banyak ditemui dihutan-hutan didaerah Toraja dan kualitas dari kayu uru cukup baik, kayu-kayu ini tidak perlu dipernis atau di pelistur, kayu dibiarkan asli .

Rumah Toraja atau Tongkonan ini dibagi menjadi 3 bagian:

1.       Kolong (Sulluk Banua)

2.       Ruangan rumah (Kale Banua)

3.       Atap (Ratiang Banua)

Pada bagian atap rumah Tongkonan, bentuknya melengkung seperti tanduk kerbau. Terdapat jendela kecil disisi timur dan barat pada bangunan, bertujuan sebagai tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin.

Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang harus diperhatikan dan tidak boleh untuk di langgar, yaitu:

1.       Rumah diharuskan menghadap ke utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan langit dan bumi itu merupakan satu kesatuan, dan bumi dibagi kedalam 4 penjuru mata angin, yaitu:

1.  Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada (keyakinan masyarakat Toraja).

2.     Timur disebut Matallo, tempat matahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan.

3.      Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian.

4.   Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala sesuatu yang tidak baik atau angkara murka.

2.      Pembangunan rumah tradisional  Tongkonan biasanya dilakukan secara gotong royong. Rumah Adat Tongkonan dibedakan menjadi 4 macam:

  1. Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran aturan-aturan.
  2. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat dilaksanakannya aturan-aturan. Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung jawab pada Tongkonan Layuk.

3.  Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan fungsi adat, hanya sebagai tempat pusat pertalian keluarga.

4.    Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan (diwariskan), kemudian disebut Tongkonan Batu A’riri.

Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan ternak juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu kenapa tanduk atau tengkorak kepala kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah, karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan  si pemilik rumah mengadakan sebuah upacara atau pesta.

Pada dasarnya, Suku Toraja yang ada sekarang ini bukanlah suku asli, tetapi merupakan suku pendatang. Menurut mitos atau kepercayaan yang sampai saat ini masih dipegang teguh, suku Toraja berasal dari khayangan yang turun pada sebuah pulau Lebukan.

Kemudian, secara bergelombang dengan menggunakan perahu mereka datang ke Sulawesi bagian Selatan. Di pulau ini mereka berdiam disekitar danau Tempe dimana mereka mendirikan perkampungan. Perkampungan inilah yang makin lama berkembang menjadi perkampungan Bugis. Diantara orang-orang yang mendiami perkampungan ini ada seorang yang meninggalkan perkampungan dan pergi ke Utara lalu menetap di gunung Kandora dan di daerah Enrekang. Orang inilah yang dianggap merupakan nenek moyang suku Toraja.

Sistim pemerintahan yang dikenal di Toraja waktu dulu adalah sistim federasi. Daerah Toraja dibagi menjadi 5 daerah yang terdiri atas :

1.       Makale

2.       Sangala

3.       Rantepao

4.       Mengkendek

5.       Toraja Barat.

Daerah-daerah Makale, Sangala dan Mengkendek dipimpin masing-masing oleh seorang bangsawan yang bernama PUANG. Daerah Rantepao dipimpin oleh bangsawan yang bernama PARENGI, sedangkan daerah Toraja Barat dipimpin oleh bangsawan bernama MA’DIKA.

Ada semacam perbedaan yang sangat menyolok antara daerah yang dipimpin oleh PUANG dengan daerah yg dipimpin oleh PARENGI dan MA’DIKA didalam menentukan lapisan sosial yang terdapat didalam masyarakat. Pada daerah yang dipimpin oleh PUANG masyarakat biasa tidak akan dapat menjadi PUANG, sedangkan pada daerah Rantepao dan Toraja Barat masyarakat biasa dapat saja mencapai kedudukan PARENGI atau MA’DIKA kalau dia pandai. Hal inilah mungkin yang menyebabkan daerah Rantepao bisa berkembang lebih cepat dibandingkan perkembangan yang terjadi di Makale.

Kepercayaan, kepercayaan di Tana Toraja dikenal pembagian kasta seperti yang terdapat didalam Agama Hindu-Bali. Karena itulah sebabnya kepercayaan asli suku Toraja yaitu ALUKTA ditetapkan pemerintah menjadi salah satu sekte dalam agama Hindu-Bali. Kelas atau kasta ini dibagi menjadi  4:

1.       Kasta Tana’ Bulaan

2.       Kasta Tana’ Bassi

3.       Kasta Tana’Karurung

4.       Kasta Tana’ Kua-kua

Adat Istiadat, adat istiadat diToraja sangat dikenal dengan upacara adatnya. Didalam menjalankan upacara dikenal 2 macam pembagian yaitu:

Upacara kedukaan disebut Rambu Solok

Upacara ini meiiputi 7 tahapan, yaitu :

1.       Rapasan

2.       Barata Kendek

3.       Todi Balang

4.       Todi Rondon

5.       Todi Sangoloi

6.       Di Silli

7.       Todi Tanaan

Upacara kegembiraan disebut Rambu Tuka

Upacara ini juga meliputi 7 tahapan, yaitu:

1.       Tananan Bua’

2.       Tokonan Tedong

3.        Batemanurun

4.       Surasan Tallang

5.       Remesan Para

6.       Tangkean Suru

7.       Kapuran Pangugan

Adat istiadat yang ada sejak dulu tetap dijalankan sekarang, karena mayoritas penduduk suku Toraja masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya (60 %). Hal ini terutama pada adat yang berpokok pangkal dari upacara adat Rambu Solok dan Rambu Tuka. Dua pokok inilah yang merangkaikan upacara-upacara adat yang masih dilakukan dan cukup terkenal.

Perkembangan Rumah Adat Toraja atau Tongkonan

Rumah Adat Suku Toraja mengalami perkembangan terus menerus sampai kepada rumah yang dikenal sekarang ini. Perkembangan itu meliputi penggunaan ruangan, pemakaian bahan, bentuk, sampai cara membangun. Sampai pada keadaannya yang sekarang rumah adat suku Toraja berhenti dalam proses perkembangan. Walaupun mengalami perkembangan terus menerus, tetapi rumah adat Toraja atau Tongkonan tetap mempunyai ciri yang khas. Ciri ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan hidup dan adat istiadat suku Toraja sendiri. Seperti halnya rumah adat suku-suku lain di Indonesia yang umumnya dibedakan kare­na bentuk atapnya, rumah adat Toraja inipun mempunyai bentuk atap yang khas. Memang mirip dengan rumah adat suku Batak, tetapi meskipun begitu rumah adat suku Toraja tetap memiliki ciri-ciri tersendiri.

Pada mulanya rumah yang didirikan masih berupa semacam pondok yang diberi nama Lantang Tolumio. Ini masih berupa atap yang disangga dangan dua tiang + dinding tebing.

Bentuk kedua dinamakan Pandoko Dena. Bentuk ini biasa disebut pondok pipit karena letak-nya yang diatas pohon. Pada prinsipnya rumah ini dibuat atas 4 pohon yang berdekatan dan berfungsi sebagai tiang. Hal pemindahan tempat ini mungkin disebabkan adanya gangguan binatang buas.

Perkembangan ketiga ialah ditandai dengan mulainya pemakaian tiang buatan. Bentuk ini memakai 2 tiang yang berupa pohon hidup dan 1 tiang buatan. Mungkin ini disebabkan oleh sukarnya mencari 4 buah pohon yang berdekatan. Bentuk ini disebut Re’neba Longtongapa.

Berikutnya adalah rumah panggung yang seluruhnya mempergunakan tiang buatan. Dibawahnya sering digunakan untuk menyimpan padi (paliku), ini bentuk pertama terjadinya lumbung.

Perkembangan ke-5 masih berupa rumah pangqung sederhana tetapi dengan tiang yang lain. Untuk keamanan hewan yang dikandangkan dikolong rumah itu. Tiang-tiang dibuat sedemikian rupa, sehingga cukup aman. Biasanya tiang itu tidak dipasang dalam posisi vertikal tetapi merupakan susunan batang yang disusun secara horisontal .

Lama sesudah itu terjadi perubahan yang banyak. Perubahan itu sudah meliputi atap, fungsi ruang dan bahan. Dalam periode ini tiang-tiang kembali dipasang vertikal tetapi dengan jumlah yang tertentu. Atap mulai memakai bambu dan bentuknya mulai berexpansi ke depan (menjorok). Tetapi garis teratas dari atap masih datar. Dinding yang dibuat dari papan mulai diukir begitu juga tiang penyangga. Bentuk ini dikenal dengan nama Banua Mellao Langi.

Berikutnya adalah rumah adat yang dinamakan Banua Bilolong Tedon. Perkembangan ini terdapat pada Lantai yang mengalami perobahan sesuai fungsinya.

Pada periode ini hanya terjadi perkembangan pada lantai dan tangga yang berada di bagian depan.

·         Pada periode ini letak tangga pindah ke bawah serta perubahan permainan lantai

·       Banua Diposi merupakan nama yang dikenal untuk perkembangan kesembilan ini. Perubahan ini lebih untuk menyempurnakan fungsi lantai (ruang).

·   Berikutnya adalah perobahan lantai yang menjadi datar dan ruang hanya dibagi dua. Setelah periode ini perkembangan selanjutnya tidak lagi berdasarkan adat, tetapi lebih banyak karena persoalan kebutuhan akan ruang dan konstruksi. Begitu juga dalam penggunaan materi mulai dipakainya bahan produk mutakhir, seperti seng, sirap, paku, dan sebagainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan yang terakhir merupakan puncak perkembangan dari rumah adat Toraja.

Asal-usul

Menurut legenda, nenek moyang orang Toraja berasal dari Hindia Belakang (Siam). Mereka berimigrasi ke daerah selatan untuk mencari daerah baru. Mereka menggunakan kapal yang menyerupai rumah adat orang Toraja sekarang ini.

Asal-usul tentang pengertian Toraja, terbagi 2 versi. Versi pertama, mengatakan bahwa kata Toraja berasal dari kata “to” yang artinya orang dan kata “raja” yang artinya raja. Jadi Toraja artinya orang-orang keturunan raja. Versi lain mengatakan bahwa Toraja berasal dari dua kata yaitu “to” yang artinya orang dan “ri aja” (bahasa Bugis) yang artinya orang-orang gunung. Jadi Toraja artinya orang-orang gunung. Kedua versi tersebut memiliki alasan yang berbeda-beda dan masuk akal.

Sejarah

  • Tahun 1926 Tana Toraja sebagai Onder Afdeeling Makale-Rantepao dibawah Self bestur Luwu.
  • Tahun 1946 Tana Toraja terpisah menjadi Swaraja yang berdiri berdasarkan Besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946.
  • Tahun 1957 berubah menjadi Kabupaten Dati II Tana Toraja berdasarkan UU Darurat Nomor 3 tahun 1957.UU Nomor 22 tahun 1999 Kabupaten Dati II Tana Toraja berubah menjadi kabupaten Tana Toraja.

Ciri Khas Suku Toraja

Salah satu ciri khas suku Toraja yaitu tempat pemakamannya. Rante, yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir atau megalit, yang dalam bahasa Toraja disebut Simbuang batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan atau pengambilan batu.

Kesenian dan Kebudayaan
Adat Perkawinan Daerah Sulawesi Selatan:

  • MelamarDalam melamar ada beberapa tahapan yang harus dijalankan, antara lain dengan cara pendekatan oleh pihak pria kepada pihak wanita, seperti menanyakan apa sang gadis masih belum ada ikatan dengan pria lain dan sebagainya. Bilamana sang gadis masih belum ada ikatan, pihak keluarga pria mengirim beberapa utusan yang terdiri dari keluarga terdekat sang pria. Tugas mereka adalah untuk melamar sang gadis secara resmi yang disebut massuro. Bila lamaran diterima oleh pihak wanita, maka kedua pihak lalu berembuk untuk menetapkan besarnya mas kawin atau sompa, juga biaya perkawinan dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.
  • Persiapan dan Upacara PernikahanBeberapa hari menjelang pernikahan, keluarga mengadakan mappaci, yaitu malam berbedak, bersolek, dan memerahi kuku atau berinai.Pada hari yang telah ditetapkan, kedua mempelai melakukan akad nikah menurut agama Islam yang dilakukan oleh penghulu, kemudian kedua mempelai melakukan upacara adat, yaitu mempelai pria menyentuh salah satu anggota badan mempelai wanita, seperti ibu jari atau tengkuk. Itu berarti bahwa mempelai wanita telah syah menjadi mempelai pria.Setelah itu, keluarga mempersandingkan kedua pengantin di pelaminan, disaksikan oleh para tamu. Seluruh upacara perkawinan yang diramaikan dengan pesta ini berlangsung di rumah mempelai wanita dan upacara ini dinamakan marola.
  • Pakaian PengantinPakaian pengantin pria dari Bugis-Makasar berupa baju jas model tertutup yang disebut baju bella dada, kain sarung songket yang disebut rope. Di pinggang bagian depan terselip sebuah keris pasang timpo (keris yang terbungkus emas separuhnya) atau keris tataroppeng (keris yang terbungkus emas seluruhnya), sedangkan di kepala terdapat hiasan kepala yang disebut sigara.Pengantin wanita memakai baju bodo, kain sarung songket atau rope, dan selendang di bahu. Sanggul pengantin wanita berhiaskan kembang goyang dan perhiasan lainnya berupa kalung bersusun, sepasang bassa atau gelang panjang bersusun, dan anting-anting.

Lagu-Lagu khas Toraja:

  • Siulu’
  • Lembang Sura’
  • Marendeng Marampa’
  • Siulu’ Umba Muola
  • Passukaranku
  • Katuoan Mala’bi’
  • Susi Angin Mamiri
  • Kelalambunmi Allo
  • Tontong Kukilalai

Obyek Wisata di Tana Toraja

  • KE’TE’ KESU’Ke’te’ kesu’ adalah obyek wisata yang sudah populer diantara turis domestik dan asing sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak 4 km dari kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dengan nomor registrasi 290 yang perlu dilestarikan/dilindungi. Obyek wisata ini sangat menarik, karena memilki suatu kompleks perumahan adat Toraja yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang Sura’ (lumpung padinya).Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu’ difungsikan sebagai tempat bermustawarah, mengelola, menetapkan, dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat di daerah Kesu’.
  • LONDALonda adalah salah satu dari sekian banyaknya obyek wisata yang menarik di Tana Toraja, yang letaknya di desa Tikunna Malenong. Londa merupakan sebuah kuburan alam berupa gua-gua batu di kaki gunung.Di dalam gua itulah diletakkan jenazah-jenazah dalam sebuah peti yang disebut erong atau duni.erong adalah semacam peti mati yang terbuat kayu yang keras dan kuat. Bagian luar erong ditatah dengan ukiran yang indah.Sebelum memasuki gua-gua alam, sedikit di atas gua terdapat jajaran patung yang disebut tau-tau yang dibuat dari kayu nangka agar dapat bertahan lama. Tau-tau ini merupakan duplikat dari jenazah yang dimakamkan. Dengan menghitung berapa jumlah tau-tau yang ada, dapat diketahui berapa jenazah yang dimakamkan dalam liang.Untuk membedakan erong mana yang telah tua, dapat dilihat dari warnanya. Erong yang berwarna hitam adalah erong yang diletakkan ketika mereka masih menganut animisme dan erong yang berwarna kecoklatan adalah erong yang dimasukkan setelah masuknya agama Kristen. Jadi umurnya setua erong yang berwarna hitam. Tapi ada erong yang telah hancur sehingga kerangka-kerangka manusia berserakan di dalam gua itu.
  • BATU TOMANGABerlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 m di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir itu berukuran dua sampai tiga m tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona di atas rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Potensi Alam Toraja

Lampako Mampie adalah sebuah taman suaka margasatwa yang berada di Pulau Sulawesi dengan luas hampir 2000 ha. Suaka margasatwa ini tepatnya berada di bagian barat Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi pada kabupaten Polewali Mamasa. Kondisi lapangan dari taman suka margasatwa tersebut terdiri atas daerah wet land yang terdiri dari daerah berawa-rawa dengan secondary forest seluas 300 ha swamp forest dan beberapa daerah isolasi mangrove. Daerah suka margasatwa ini merupakan daerah yang sangat penting bagi tumbuhan dan hewan. Hewan utamanya adalah burung Mandar Sulawesi atau Ballidae atau Celebes Rails (Aramidopsis plateni) yang merupakan burung endemis yang hidup pada kawasan tersebut. Disamping itu, kawasan ini juga merupakan daerah untuk berkembang biak beberapa hewan lainnya, bahkan menjadi tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi.

Dengan melihat dari berbagai pengertian ekowisata, potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut, pengelolaan kawasan suaka yang mulai ditangani daerah dan keinginan masyarakat lokal untuk dapat membangun sebuah kawasan yang berasaskan lingkungan hidup, sehingga timbulah keinginan masyarakat daerah tersebut untuk dapat mengelola langsung kawasan suaka ini dengan tetap memperhatikan alam, disamping mereka juga mendapatkan insentif secara ekonomis untuk kelangsungan anak.

Kesimpulan

Sebenarnya Indonesia memiliki ragam kebudayaan dan suku-suku didalamnya, tetapi banyak masyarakat yang tidak mengenal kebudayaan apa saja yang ada dinegerinya. Salah satu contohnya adalah Toraja, suku yang berdiam di provinsi Sulawesi Selatan ini memiliki banyak kebudayaan-kebudayaan yang unik. Dari mulai suku-suku, bahasa, adat perkawinan, upacara adat kematian, makanan khas, dan objek wisata yang beragam dan unik.

 
November 30th, 2012
 

Bicara soal rumah adat sunda, pertama-tama kita artikan dahulu bagian dari rumah adat ini. Rumah adat Sunda dibagi dalam kategori depan (laki laki) dan belakang (perempuan). Kemudian ada pembagian kiri (laki-laki) dan kanan (perempuan). Mengapa demikian? Menurut masyarakat Sunda lama, perempuan memiliki kedudukkan derajat yang tinggi. bagian depan dan kiri adalah bagian yang paling laki-laki, jadi harus bersifat kering. (Sumber : Sumardjo, Jacob, 2011. Sunda Pola Rasionalitas Budaya. Bandung. Kelir). Terdapat juga bagian tengah, yang disebut bagian netral.

Rumah adat Sunda ini berbentuk panggung, ketinggian 0,5 m – 1,8 m di atas permukaan tanah membentuk kolong di bawahnya. Kolong ini berguna untuk mengikat binatang-binatang peliharaan maupun menyimpan alat-alat pertanian. Untuk naik ke rumah, disediakan tangga yang disebut Golodog . Golodog ini sendiri berfungsi untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah dan terbuat dari kayu maupun bambu.

Sedangkan bagian atap rumah terdapat 3 bagian, yaitu rarangki tukang (atap belakang) yang bentuknya agak panjang. rarangki pondok (atap tengah) yang bentuknya lebih pendek. Dan rarangki panjang (atap depan) yang merupakan bagian atap terpanjang.

Rumah adat Sunda ini memiliki beberapa jenis nama yang berbeda tergantung bentuk atap dan pintu rumahnya. Yaitu =

1. Jolopong

Bentuk atapnya ini sama panjang dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang sebelah-menyebelah. Rumah ini memiliki bagian :

- ruang depan (emper / tepas)

- ruang tengah (tengah imah / patengahan)

– ruang samping (pangkeng)

– ruangan belakang (pawon & padaringan).

2. Badak Heuay


Bentuknya seperti saung, tidak memakai wuwung sambungan atap (hateup) depan dengan belakang seperti badak sedang membuka mulutnya (heuay).

3. Tagog Anjing

Bentuknya seperti badak heuay namun bagian depannya lebih panjang dan menurun seperti tekuk (anjing jongkok)

4.Capit Gatung

Pada bagian atap ujung belakang atas dan depan atas menggunakkan kayu atau bambu yang bentuknya menyilang di atas seperti tanda x.

5. Parahu Kumureb

Bentuk atapnya seperti perahu yang terbalik.

6. Julang Ngapak

Pada sisi kiri kanan agak melebar ke samping. seperti burung yang sedang terbang.

Untuk material bangunan rumah adat Sunda ini sendiri menggunakkan paseuk dari bambu (penguat tiang), tali dari ijuk ataupun sabut kelapa, dan atapnya menggunakkan ijuk, daun kelapa atau daun rumbia. Lantainya terbuat dari papan kayu atau palupuh.

Sumber :

http://indonesianwisdom.com/detailberita.php?id=15

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://4.bp.blogspot.com/_E1A0jt-7PmA/S-GBzyXJBxI/AAAAAAAAAi0/c5zLJI9AY44/s1600/jenis%2Bdan%2Bbentuk%2Brumah%2Btradisional%2Bsunda.jpg&imgrefurl=http://neoisgourmand.blogspot.com/2010/05/rumah-idamanku.html&h=320&w=292&sz=26&tbnid=XmaQn5SayeGSgM:&tbnh=90&tbnw=82&zoom=1&usg=__eRbhbvDkG0PcJClcXTYr4Dmo4OQ=&docid=5VTgAOgLVXq5JM&hl=id&sa=X&ei=s0e4UI_VE87wrQeAqIHwAg&sqi=2&ved=0CDkQ9QEwAg&dur=246

http://f-pelamonia.blogspot.com/2010/01/perkembangan-arsitektur-pada-rumah.html

 
November 30th, 2012
 

Indonesia tanah air yang kaya akan budaya dan sampai juga akhirnya kita ke tanah Sunda. Kali ini mari kita membahas rumah adat Sunda atau rumah tradisional suku Sunda yang mempunyai nama Imah. Suku Sunda sendiri merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia setelah suku jawa. Suku Sunda adalah etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa. Rumah adat Sunda pada umumnya mempunyai kolong dengan ketinggian 50 cm – 1 m  diatas permukaan tanah. Kalau rumah adat Sunda yang berumur cukup tua mempunyai kolong dengan ketinggian bisa mencapai 1,8 M. Biasanya Kolong rumah di gunakan untuk menyimpan peralatan bertani dan kandang binatang ternak. Kolong rumah tersebut mempunyai nama kolong Imah dan untuk masuk kedalam rumah terdapat tangga yang di beri nama Golodog.

Rumah adat Sunda sebagian besar terbuat dari kayu atau bambu, Rumah adat Sunda itu sendiri memiliki nama yang bermacam-macam jenis sesuai dengan bentuk atap dan pintu rumahnya.

  • Suhunan Jolopong
  • Tagong Anjing
  • Badak Heuay
  • Perahu Kemureb
  • Jubleg Nangkub
  • Buka Pongpok

Yang paling gampang ditemui adalah Rumah Adat Sunda berbentuk Suhunan Jolopong karena bentuknya yang paling sederhana, Rumah adat bentuk atau jenis  Suhunan Jolopong banyak dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa jawa barat. Ruangan rumah adat suku Sunda terbagi menjadi tiga bagian. bagian depan, tengah dan belakang. Rangkay Imah sebutan kerangka dari unsur pokok elemen rumah, elemen itu terdiri dari bagian atas yaitu atap disebut dengan istilah hateup, dan susuhunan atau bubungan. Hateup pada rumah tradisional sunda terbuat dari bahan ijuk atau daun kawung (enau). Seluruh bagian dari rumah berdinding batang bambu yang dibelah. Dinding untuk sekat pada bilik-bilik di dalam rumah terbuat dari anyaman bambu yang disebut dengan giribig dan lantai terbuat dari papan kayu. Bangunan rumah adat Sunda menggunakan sistem paseuk / pasak (terbuat dari bambu) atau dengan tali terbuat dari ijuk ataupun sabut kelapa yang di pilin. Ruangan bagian depan disebut dengan tepas, emper, sosoro atau beranda. Berfungsi untuk menerima tamu dan untuk bersantai di lua. Bagi masyarakat Sunda yang memiliki tanah cukup luas, biasanya mereka membangun sebuah bangunan berupa kamar khusus untuk tamu yang sejajar dengan beranda. Ruang dibagian tengah rumah disebut Tengah Imah. Pada bagian ini, terdapat pangkéng sebutan kamar tidur dan jumlah kamar tidur dibuat sesuai jumlah anggota keluarga dan ukuran tiap kamar disesuaikan dengan luas rumah. Ruang tidur orang tua, anak laki-laki dan perempuan terpisah. Terdapat pula ruang keluarga tempat berkumpulnya keluarga. Bagian belakang rumah disebut juga Tukang Imah. Terdapat dapur dan ruang goah. Dapur berfungsi sebagai ruangan untuk memasak. Ruang Goah adalah ruangan dekat dengan dapur yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan, bumbu-bumbu masak, perabot-perabot dapur dan padaringan. Padaringan adalah gentong terbuat dari tanah liat yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan beras. Hanya kaum perempuan yang boleh memasuki dapur dan ruang goa. Bagian belakang luar rumah dibangun sumur sebagai sumber air. Tersedia pula tempat jemuran dan pancuran air. Tradisi Sunda memandang tabu kaum laki-laki bila masuk ke dapur, dan itu dianggap tidak baik. Ruangan belakang ini suka dijadikan tempat menerima tamu perempuan. Sedangkan bagian beranda rumah, dikhususkan untuk menerima tamu laki-laki. Leuit adalah bangunan tempat menyimpan hasil bumi. Biasanya digunakan sebagai lumbung padi. Dibangun terpisah dari rumah. Saung Lisung adalah bangunan untuk masyarakat umum dan disediakan oleh masyarakat sekitar. Berfungsi sebagai tempat warga menumbuk padi ramai-ramai secara gotong royang dan penuh kebersamaan. Kegiatan menumbuk padi ini, di sebagian masyarakat Sunda disertai dengan nyanyian dan iringan ketukan lisung dan halu saling bersahutan. Nilai filosofis yang terkandung didalam arsitektur rumah tradisional Sunda secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya. Ditilik dari material rumah adat Sunda itu sendiri terkesan tipis dan ringkih tentu hal ini tidak mungkin dipakai untuk tempat perlindungan layaknya sebuah benteng perlindungan dari peperangan antar kampung, jadi masyarakat suku Sunda sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar umat manusia. Rumah bagi orang Sunda semata sebagai tempat perlindungan dari hujan, angin, terik matahari dan binatang.

Kunjungilah blog saya: http://irenaherningtyasirianti.blogspot.com

 
November 29th, 2012
 

Rumah Adat Nias mungkin kebanyakkan dari kita khususnya orang Indonesia yang kurang mengenali akan kekayaan budayanya sendiri, Akan sangat merasa asing dengan kata “OMO HADA”. Ya Omo Hada adalah sebutan untuk Rumah Adat Nias Utara, umumnya yang kita tau tentang apa adat atau kebudayaan dari Nias adalah Lompat Batu, padahal Nias memiliki rumah adat dengan karateristik dan arsitektur yang sangat mengagumkan.

Rumah di Nias adalah potret tradisi nenek moyang suku Nias yang secara rasional menyiasati ancaman dari alam sekaligus potensi alam dalam membina bangunan. Hasilnya adalah suatu karya yang sangat berani berekspresi dengan titik berat rancangan yang memenuhi kebutuhan bertinggal namun dengan niali estetika yang terlahir dari logika serta konstruksi dan geometri yang sederhana namun mengagumkan.

Rumah adat Nias atau lebih dikenal dengan sebutan Omohada saat ini memang sudah jarang ditemui. Karena akibat perkembangan zaman serta teknologi telah membuat jumlah Omohada yang bersejarah di Nias semakin sedikit. Seperti halnya kampung Bawamataluo di Nias Selatan. Kampung Bawamataluo adalah sebuah kampung yang memiliki banyak rumah adat Nias Selatan yang masih asli. Karena perkembangan zaman saat ini rumah adat yang ada di sana sudah termodernisasi. Sangat disayangkan memang jika dilihat kampung tersebut sebenarnya bisa dijadikan sebagai warisan budaya dunia jika tetap mempertahankan keaslian rumah adatnya.

Tujuan sebenarnya untuk penulisan ini adalah agar kita para kaum muda lebih mencintai dan perduli akan budaya budaya yang ada di tanah airnya sendiri, dan sekaligus untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Nias yaitu dari sisi rumah adatnya.

Rumah adat Nias atau lebih dikenal dengan sebutan Omohada saat ini memang sudah jarang ditemui. Karena akibat perkembangan zaman serta teknologi telah membuat jumlah Omohada yang bersejarah di Nias semakin sedikit. Seperti halnya kampung Bawamataluo di Nias Selatan. Kampung Bawamataluo adalah sebuah kampung yang memiliki banyak rumah adat Nias Selatan yang masih asli. Karena perkembangan zaman saat ini rumah adat yang ada di sana sudah termodernisasi. Sangat disayangkan memang jika dilihat kampung tersebut sebenarnya bisa dijadikan sebagai warisan budaya dunia jika tetap mempertahankan keaslian rumah adatnya.

Tujuan sebenarnya untuk penulisan ini adalah agar kita para kaum muda lebih mencintai dan perduli akan budaya budaya yang ada di tanah airnya sendiri, dan sekaligus untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Nias yaitu dari sisi rumah adatnya.

Rumah adat di Nias dibuat dengan ukuran lebih kecil dari rumah-rumah adat aslinya, adalah mewakili rumah adat dari Nias Selatan. Rumah yang berbentuk empat persegi panjang dan berdiri di atas tiang ini menyerupai bentuk perahu. Begitu pula pola perkampungan, hiasan-hiasan bahkan peti matinya pun berbentuk perahu. Dengan bentuk rumah seperti perahu ini diharapkan bila terjadi banjir maka rumah dapat berfungsi sebagai perahu. Untuk memasuki rumah adat ini terlebih dahulu menaiki tangga dengan anak tangga yang selalu ganjil 5 – 7 buah, kemudian memasuki pintu rumah yang ada dua macam yaitu seperti pintu rumah biasa dan pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka ke atas. Pintu masuk seperti ini mempunyai maksud untuk menghormati pemilik rumah juga agar musuh sukar menyerang ke dalam rumah bila terjadi peperangan.

Ruangan pertama adalah Tawalo yaitu berfungsi sebagai ruang tamu, tempat bermusyawarah, dan tempat tidur para jejaka. Seperti diketahui pada masyarakat Nias Selatan mengenal adanya perbedaan derajat atau kasta dikalangan penduduknya, yaitu golongan bangsawan atau si Ulu, golongan pemuka agama atau Ene, golongan rakyat biasa atau ono embanua dan golongan Sawaryo yaitu budak.
Di bagian ruang Tawalo sebelah depan dilihat jendela terdapat lantai bertingkat 5 yaitu lantai untuk tempat duduk rakyat biasa, lantai ke 2 bule tempat duduk tamu, lantai ketiga dane-dane tempat duduk tamu agung, lantai keempat Salohate yaitu tempat sandaran tangan bagi tamu agung dan lantai ke 5 harefa yakni untuk menyimpan barang-barang tamu. Di belakang ruang Tawalo adalah ruang Forema yaitu ruang untuk keluarga dan tempat untuk menerima tamu wanita serta ruang makan tamu agung. Di ruang ini juga terdapat dapur dan disampingnya adalah ruang tidur.

Rumah adat Nias biasanya diberi hiasan berupa ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan diukirkan pada balok-balok utuh. Seperti dalam ruangan Tawalo yang luas itu interinya dihiasi ukiran kera lambang kejantanan, ukiran perahu-perahu perang melambangkan kekasaran. Dahulu, di ruangan ini juga digantungkan tulang-tulang rahang babi yang berasal dari babi-babi yang dipotong pada waktu pesta adat dalam pembuatan rumah tersebut.
Menurut cerita, di ruangan ini dahulu digantungkan tengkorak kepala manusia yang dipancumg untuk tumbal pendirian rumah. Tapi setelah Belanda datang, kebiasaan tersebut disingkirkan. Untuk melengkapi ciri khas adat istiadat Nias adalah adanya batu loncat yang disebut zawo-zawo. Bangunan batu ini dibuat sedemikian rupa untuk upacara lompat batu bagi laki-laki yang telah dewasa dalam mencoba ketangkasannya.

Omo hada asli tidak menggunakan paku, melainkan pena dan pasak kayu, sebagaimana rumah knock down atau bongkar pasang. Bahan kayu yang digunakan merupakan pilihan, diperoleh dari hutan-hutan di Nias. “Sekarang susah mencari kayu-kayu pilihan untuk membangun rumah adat, sudah habis dari hutan,” ungkap Zebua. Syukurlah, rumbia untuk atap rumah masih dapat dibuat dari nyiur sehingga bumbungannya tetap tampak unik. Bumbungan kelihatan jadi semakin unik dengan adanya satu hingga dua tuwu zago, yaitu jendela di bagian atap sebagai ventilasi dan sumber cahaya bagi rumah. Tuwu zago ini terdapat di atap bagian depan dan belakang bumbungan.

Tiang Kayu dan Simbol Omo Hada
Setiap omo hada memiliki enam tiang utama yang menyangga seluruh bangunan. Empat tiang tampak di ruang tengah rumah, sedang dua tiang lagi tertutup oleh papan dinding kamar utama. Dua tiang di tengah rumah itu disebut simalambuo berupa kayu bulat yang menjulang dari dasar hingga ke puncak rumah. Dua tiang lagi adalah manaba berasal dari pohon berkayu keras dipahat empatsegi, demikian pula dua tiang yang berada di dalam kamar utama. Setiap tiang mempunyai lebar dan panjang tertentu satu dengan lainnya. “Semakin lebar jarak antara tiang simalambuo dengan tiang manaba maka semakin berpengaruhlah si pemilik rumah,” ungkap Ya’aro Zebua lagi.

Rumah-rumah adat di Nias juga tidak memiliki jendela. Sekelilingnya hanya diberi teralis kayu tanpa dinding sehingga setiap orang di luar rumah dapat mengetahui siapa yang berada di dalamnya. Menurut Zebua, desain ini menandakan orang Nias bersikap terbuka, jadi siapapun di desa dapat mengetahui acara-acara di dalam rumah, terutama yang berkaitan dengan adat dan masalah masyarakat setempat. Biasanya pemilik rumah bersama ketua adat duduk di bangku memanjang di atas lantai yang lebih tinggi—disebut sanuhe—sambil bersandar ke kayu-kayu teralis, sedangkan yang lainnya duduk di lantai lebih rendah atau disebut sanari. Setiap acara adat akan berlangsung di dalam rumah, terlebih dulu seisi kampung diundang dengan membunyikan faritia (gong) yang tergantung di tengah rumah. Faritia di rumah adat Nias Selatan dilengkapi oleh fondrahi, yaitu tambur besar sebagaimana terlihat di omo sebua—rumah besar untuk raja dan bangsawan—di Desa Bawomatoluo, Teluk Dalam.

Segi artistik juga menjadi perhatian dalam pembangunan omo hada. Banyak kayu-kayu berukir menghias interior dan eksterior rumah. Ini menandakan orang Nias mempunyai rasa seni tinggi.

Kayu Elastis Menahan Gempa
Mengapa omo hada tak rubuh saat gempa? Ya’aro Zebua mengatakan kayu-kayu yang digunakan untuk rumah mereka bersifat elastis. ” Jadi saat gempa rumah pun ‘main’ [ikut bergerak] sesuai guncangan bumi.” Tetapi, diakuinya, gerakan-gerakan itu telah membuat posisi tiang-tiang rumah bergeser sehingga tampak miring. Selain itu, dia mengungkapkan, umumnya atap di puncak bumbungan mengalami kerusakan walaupun tak begitu berarti.

Rumah-rumah di Nias bagian utara, seperti Desa Tumori, umumnya disangga oleh balok-balok kayu berbentuk letter X yang disebut diwa. Diwa menahan lantai rumah di bagian kolong, selain ada pula siloto yang berupa kayu panjang yang menempel di bagian bawah papan lantai rumah tersebut. Siloto langsung menahan lantai rumah, dan merupakan bagian kayu yang paling elastis. Ada juga gohomo, yaitu kayu-kayu yang tegak lurus menopang dan memagari seluruh kolong rumah sehingga omo hada semakin kokoh sekaligus elastis. Gohomo berada di bagian terluar pada kolong rumah, sedangkan siloto dan diwa berada di bagian dalamnya.

Sebagian orang Nias memang sudah tidak begitu banyak yang memperhatikan keberadaan Omohada Nias yang masih asli. Namun warisan budaya tanah air ini bukalah hanya milik Nias api milik Indonesia dan sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan warisan tanah aor kita ini, sangat memperihatinkan keadaan akan kesadarn cinta akan budaya negara sendiri oleh masyarakatnya. Padahal, orang asing di luar negeri sangat mengagumi arsitektur Omohada Nias. Salah satu buktinya adalah pengakuan seorang Arsitek dunia Alain M. Viaro dan Arletta Ziegler dalam bukunya berjudul “Traditional Architecture of Nias Island” mengakui bahwa arsitektur rumah tradisional Nias merupakan satu-satunya arsitektur rumah tahan gempa yang terdapat di dunia ini. Dan ini memang terbukti, ketika gempa berskala besar melanda kepulauan Nias tahun 2005 yang lalu, rumah-rumah adat Nias yang masih asli tetap kokoh berdiri.

Masih belum terlambat untuk menyelamatkan warisan budaya ini, dukungan masyarakat maupun pemerintah sangat diharapkan dalam melestarikannya. Karena kita tidak bisa menuntut pemilik Rumah Adat Nias yang masih asli untuk tetap mempertahankan keaslian rumahnya, apabila kita dan pemerintah tidak mengulurkan tangan dalam memberikan biaya perawatan yang tidak sedikit jumlahnya. Pelestarian rumah adat Nias bukan hanya tanggung jawab pemilik rumah, tapi tanggung jawab kita bersama dalam merawat dan mempertahankan keasliannya.

Negara kita yang begitu kaya akan keanekaragaman suku, adat istiadat serta budaya yang sangat disayangkan jika kita tidak mencintai keunikkan negara kita, hanya di negara kita meskipun terdapat banyak perbedaan antar culutre tapi masih tetap bersatu dan tetap mencintai Indonesia. Cintailah negaramu hargailah negaramu lestarikan budayamu karna perbedaan adalah suau hal yang kuat untuk negara ini, jangan pernah membenci apapun yang ada dalam negri ini, dalam negri ini adalah surganya dunia dimana begitu banyak hal-hal bersejarah keanekaragaman flora dan fauna yang hanya bisa dilihat di negara ini. Cintailah negrimu sebelum terlambat.

 
November 29th, 2012
 

Kebudayaan JAWA TIMUR


Penjelasan Apa yang ada yang di JAWA TIMUR

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. S

aat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi. Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi icon kesenian Jawa Timur..Dalam Daerah ponorogo ada Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal

Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timur. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan, Angling Darma, dan Sarip Tambak-Oso. Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana. Terdapat pula kebudayaan semacam barong sai di Jawa Timur. Kesenian itu ada di dua kabupaten yaitu, Bondowoso dan Jember. Singo Wulung adalah kebudayaan khas Bondowoso. Sedangkan Jember memiliki macan kadhuk.

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini. Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta. Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu. Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan. Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako’ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Dalam bahasa jawa timur kebanyakan dareahnya banyak menggunakan bahsa jawa secara halus yang biasa di gunakan untuk berbicara ke pada yang lebih tua dan bahasa jawa kasar biasa di gunakan untuk sesama umur atau di bawah umurnya.

Dialek Bahasa Jawa di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek Bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan Dialek Surabaya. Dibanding dengan bahasa Jawa dialek Mataraman (Ngawi sampai Kediri).

Salah satu ciri khas yang membedakan antara bahasa arek Surabaya dengan arek Malang adalah Suku Jawa umumnya menganut agama Islam, sebagian menganut agama Kristen dan Katolik, dan ada pula yang menganut Hindu dan Buddha. Sebagian orang Jawa juga masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Agama Islam sangatlah kuat . Sedangkan Suku Tengger menganut agama Hindu. Orang Tionghoa umumnya menganut Konghucu, meski ada pula sebagian yang menganut Buddha, Kristen, dan Katolik; n Masjid Cheng

Pakaian Pada awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.

Makanan khas Jawa Timur di antaranya adalah rawon dan rujak petis. Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga merupakan kuliner khas daerah ini. Bondowoso merupakan penghasil tape yang manis. Gresik terkenal dengan nasi krawu, otak-otak bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Dan Trenggalek merupakan penghasil Tempe Kripik. Blitar memiliki makanan khas nasi pecel. Buah yang terkenal asli Blitar yaitu Rambutan. Banyuwangi terkenal dengan sego tempong dan makanan khas campurannya yaitu rujak soto dan pecel rawon. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura, sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek.

Rumah adat Jawa Timur

Rumah adat joglo adalah salah satu rumah adat yang dimiliki oleh daerah Jawa Timur. Rumah adat joglo di Jawa Timur banyak ditemukan di daerah Ponorogo.
Kebanyakan rumah joglo yang terdapat di Ponorogo adah rumah adat joglo yang memiliki dua ruangan yaitu :

  • Ruang depan (pendopo) yang difungsikana sebagai :
    • tempat menerima tamu
    • balai pertemuan (karena awalnya hanya dimiliki oleh bangsawan dan kepala desa)
    • tempat untuk mengadakan upacara – upacara adat
  • Ruang belakang yang terdiri dari :
    • kamar – kamar
    • dapur (pawon)

Sedangkan ruang utama atau ruang induk pada rumah joglo dibagi menjadi 3 ruangan, yaitu :

    • sentong kiwo (kamar kiri)
    • sentong tengan (kamar tengah)
    • sentong tangen (kamar kanan)

Dalam rumah adat joglo, umumnya sebelum memasuku ruang induk kita akan melewati sebuah pintu yang memiliki hiasan  sulur gelung ataumakara. Hiasan ini digambarakn untuk menolak maksud – maksud jahat.
Dalam masyarakat Jawa, kamar tengah merupakan kamar sakral. Dalam kamar ini pemiliki rumah biasanya menyediakan tempat tisur atau katil yang dilengkapi dengan bantal guling, cermin dan sisir dari tanduk.
Kamar tengah umumnya juga dilengkapi denganlampu yang menyala siang siang dan malam yang berfungsi sebagai pelita, serta ukiran yang memiliki makna sebagai pendidikan rohani.
Di sebelah kiri (barat) terdapat dempil yang berfungsi sebagai tempat tidur orang tua yang langsung dihubungkan dengan serambi belakang (pasepen)yang digunakan untuk membuat kerjinan tangan.
Sedangkan disebelah kanan (timur) terdapat dapur, pendaringan dan tempat yang difungsikan untuk menyimpan alat pertanian

 
November 29th, 2012
 

Papua tidak hanya pesona alamnya saja yang menakjubkan, tetapi rumah adatnya pun terkenal, yaitu rumah adat Honai. Bahkan kini rumah adat honai tidak hanya dijadikan sebagai rumah tinggal masyarakat papua saja, tetapi juga dijadikan sebagai objek wisata.


Rumah adat Papua atau yang dahulu bernama Irian Jaya ini cukup unik. Atapnya berbentuk seperti setengah tempurung kelapa serta bahan yang digunakan pun diperoleh dari alam sekitar, yaitu kayu dan jerami.

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).

Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Rumah Honai dalam satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur), bangunan lainnya untuk tempat makan bersama, dan bangunan ketiga untuk kandang ternak. Rumah Honai pada umumnya terbagi menjadi dua tingkat. Lantai dasar dan lantai satu dihubungkan dengan tangga dari bambu. Para pria tidur pada lantai dasar secara melingkar, sementara para wanita tidur di lantai satu.

Rumah Honai mempunyai fungsi antara lain:

1.    Sebagai tempat tinggal;

2.    Tempat menyimpan alat-alat perang;

3.    Tempat mendidik dan menasehati anak-anak lelaki agar bisa menjadi orang berguna di masa depan;

4.    Tempat untuk merencanakan atau mengatur strategi perang agar dapat berhasil dalam   pertempuran;

5.    Tempat menyimpan alat-alat atau simbol dari adat orang Dani yang sudah ditekuni sejak dulu.
Bangunan Honai berbentuk melingkar atau bulat mempunyai filosofi yang berarti:

1.    Dengan kesatuan dan persatuan yang paling tinggi kita mempertahankan budaya yang telah diperthankan oleh nene moyang kita dari dulu hingga saat ini.

2.    Dengan tinggal dalam satu honai maka kita sehati, sepikir dan satu tujuan dalam menyelesaikan pekerjaan.

3.    Honai merupakan symbol dari kepribadian dan merupakan martabat orang Dani yang harus dijaga oleh keturunan Dani di masa yang akan datang.
Arsitektur Honai:


1. Bentuk
Bentuk Honai yang bulat tersebut dirancang untuk menghindari cuaca dingin ataupun tiupan angin yang kencang karena suhu rata-rata di daerah sana 190°C.
2. Atap
Honai memiliki bentuk atap  bulat kerucut. Bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak mengenai dinding ketika hujan turun. Atap honai terbuat dari susunan lingkaran-lingkaran besar yang terbuat dari  kayu buah sedang yang dibakar di tanah dan diikat menjadi satu di bagian atas sehingga membentuk dome. Empat pohon muda juga diikat di tingkat paling atas dan vertikal membentuk persegi kecil untuk perapian. Penutup atap terbuat dari jerami yang diikat di luar dome. Lapisan jerami yang tebal membentuk atap dome, bertujuan menghangatan ruangan di malam hari. Jerami cocok digunakan untuk daerah yang beriklim dingin. Karena jerami ringan dan lentur memudahkan suku Dani membuat atap serta jerami mampu menyerap goncangan gempa.

3. Perlengkapan dan Bahan Pembuatan Honai
Kebiasaaan dari suku atau orang dani dalam membangun honai yaitu mereka mencari kayu yang memang kuat dan dapat bertahan dalam waktu yang lama atau bertahun-tahun. Bahan yang digunakan sebagai berikut:

1.    Kayu besi (oopir) digunakan sebagai tiang tengah

2.    Kayu buah besar

3.    Kayu batu yang paling besar

4.    Kayu buah sedang

5.    Jagat (mbore/pinde)

6.    Tali

7.    Alang-alang

8.    Papan yang dikupas

9.    Papan las,dll
4.  Dinding dan Bukaan
Honai mempunyai pintu kecil dan jendela-jendela yang kecil, jendela-jendela ini berfungsi memancarkan sinar ke dalam ruangan tertutup itu, ada pula Honai yang tidak memiliki jendela, pada umumnya untuk Honai perempuan.Jika anda masuk ke dalam honai ini maka di dalam cukup hangat dan gelap karena tidak terdapat jendela dan hanya ada satu pintu. Pintunya begitu pendek sehingga harus menunduk jika akan masuk ke rumah Honai. Dimalam hari menggunakan penerangan kayu bakar di dalam Honai dengan menggali tanah didalamnya sebagai tungku selain menerangi bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur mereka tidak menggunakan dipan atau kasur, mereka beralas rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Umumnya mereka mengganti jika sudah terlalu lama karena banyak terdapat kutu babi.
5. Ketinggian Bangunan
Rumah Honai mempunyai tinggi 2,5-5 meter dengan diameter 4-6 meter. Honai ditinggali oleh 5-10 orang dan rumah ini biasanya dibagi menjadi 3 bangunan terpisah. Satu  bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur). Bangunan kedua untuk tempat makan bersama dimana biasanya mereka makan beramai-ramai dan bangunan ketiga untuk kandang ternak. Rumah honai juga biasanya terbagi menjadi 2 tingkat. Lantai dasar dan lantai satu di hubungkan dengan tangga yang terbuat dari bambu. Biasanya pria tidur melingkar di lantai dasar , dengan kepala di tengah dan kaki di pinggir luarnya, demikian juga cara tidur para wanita di lantai satu.

blog pribadi: http://syubiananova.blogspot.com/2012/11/arsitektur-rumah-adat-honai.html

 
November 29th, 2012
 

Saya akan membicarakan suatu wilayah di daerah selatan (Namphang) dimana didaerah ini terdapat kerajaan yang disebut Tolang Pahwong. Yang artinya To adalah Orang dan Lang Pohwang adalah Lampung. Lampung ini merupakan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Jambi dan menguasai sebagian wilayah Asia Tenggara dan Lampung Berjaya hingga abad ke-11. Mengapa Sriwijaya dating ke Lampung? Karena daerah Lampung ini dulunya merupakan sumber emas dan damar. Peninggalan yang menunjukkan bahwa Lampung berada dibawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya antara lain dengan ditemukannya prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Batu Bedil didaerah Tenggamus merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya (abad VIII). Kerajaan-kerajaan Tulang Bawang dan Skala Brak juga pernah berdiri pada sekitar abad VII-VIII. Pusat kerajaan Tulang Bawang diperkirakan disekitar Menggala/Sungai Tulang Bawang sampai Pagar Dewa. Zaman Islam ditandai masuknya Banten diLampung pada abad ke 16, terutama pada saat bertahannya Sultan Hasanudin (1522-1570). Sejak masa dulu, Lampung memang dikenal karena tanaman ladanya yang banyak dicari orang.  Kesultanan Banten yang tertarik dengan produksi lada Lampung menguasai daerah ini pada awal abad ke-16 dan sekaligus memperkenalkan agama Islam. Pada zaman ini Lampung melahirkan pahlawan yang terkenal gigih menatang Belanda, yang bernama Radin Intan. Pengaruh Islam terlihat diantaranya dan adanya Tambra Prasasti (Buk Dalung) di daerah Bojong Kecamatan Jabung Sekarang, berisi tentang perjanjian anatara Banten dan Lampung dalam melawan penjajahan Belanda. Control yang dilakukan Kesultanan Banten atas produksi lada Lampung telah menjadikan pelabuhan Banten sebagai Pelabuhan lada yang paling besar dan paling makmur di Nusantara. Dengan adanya tanaman lada ini membuat pendatang dari Eropa tertarik dengan usaha yang dimiliki. Perusahaan dagang ini pada akhir abad ke-17 membangun sebuah pabrik pengolahan di Menggala. Namun dengan berbagai upaya akhirnya Belanda berhasil menguasai Lampung pada tahun 1856.Pemerintah kolonial Belanda untuk pertama kalinya memperkenalkan program transmigrasi kepada penduduk di Pulau Jawa yang sangat padat untuk pindah dan berusaha di Lampung. Program transmigrasi ini ternyata cukup diterima baik dan banyak penduduk asal Pulau Jawa yang kemudian pindah ke lokasi transmigrasi yang berada di kawasan timur Lampung. Program transmigrasi ini kemudian ditingkatkan lagi pada masa kemerdekaan pada tahun 1960-an dan 1970- an. Orang asal Pulau Jawa ini membawa serta perangkat kebudayaan mereka ke Lampung seperti gamelan dan wayang. Orang dari Pulau Bali kemudian juga datang ke Lampung untuk mengikuti program transmigrasi ini. Kehadiran pendatang dari daerah lain di Lampung telah menjadikan wilayah ini sebagai daerah dengan kebudayaan yang beragam (multi-kultur). Keragaman suku yang ada justru menjadi daya tarik wisata apalagi di berbagai kabupaten yang ada tersebar potensi wisata alam, wisata budaya. Keberadaan sanggar-sanggar seni/budaya sebagai pelestari seni/budaya warisan nenek moyang banyak berkembang.

Dalam catatan sejarah yang ada hingga saat ini, Pulau Sumatera ini ditemukan Angkatan Laut Kerajaan Rau (Rao) di India yang bernama Sri Nuruddin Arya Passatan tahun 10 Saka/88 Masehi yang tercantum dalam Surat Peninggalan pada Bilah Bambu tahun 50 Saka/128 M yang ditandatangani Ariya Saka Sepadi, bukan Sri Nuruddin Angkatan Pertama yang datang dari kerajaan Rao di India. Karena tidak ada kabar beritanya angkatan pertama, dikirim angkatan kedua yang dipimpin langsung Putra Mahkota Kerajaan Rao di India Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu tahun 101 Saka/179 Masehi. Dengan 7 armada (kapal), mereka berlabuh di daratan Sumatera tepatnya di Pulau Seguntang atau Bukit Seguntang sekarang di Palembang, Y.M. Sri Mapuli Atung Bungsu memerintahkan Arya Tabing, nakhoda kepal penjalang untuk mendirikan pondokan dan menera (menimbang) semua sungai yang berada di wilayah Pulau Seguntang tersebut. Demi mengikuti amanat Ayahanda Kerajaan Rao di India, berganti-ganti air sungai ditera (ditimbang) Arya Tabing atas titah Y.M. Sri Mapuli Dewa Atung Bungsu, sebelum Arya Tabing menimbang semua air sungai, beliau bertanya kepada YM, sungai mana yang harus ditera (ditimbang), dijawab YM, semua Tera (yang maksudnya semua air sungai yang ada ditimbang). Dari kata-kata beliau itulah asal nama Sumatera hingga saat ini yang tercatat dalam surat lempengan emas tahun 10 Saka/88 Masehi serta surat dari bilah bambu pada tahun 101 Saka/179 Masehi yang sampai saat ini belum ditemukan bangsa Indonesia, dan berkemungkinan sekali bertuliskan/aksara kaganga atau pallawa/hanacaraka di wilayah Sumetera bagian selatan. Setelah ditimbang angkatan Arya Tabing, didapatlah air sungai/Ayik Besemah dari dataran tinggi Bukitraja Mahendra Mahendra (Bukit Raje Bendare) mengalir ke barat dan bermuara di Sungai Lematang wilayah Kota Pagar Alam (Lahat).

Adat pepadun sai batin terbentuk pada abad ke-17 tahun 1648 M oleh empat kelompok/buay, yaitu Buay Unyai di Sungai Abung, Buay Unyi di Gunungsugih, Buay Uban di Sungai Batanghari dan Buay Ubin (Subing) di Sungai Terbanggi, Labuhan Maringgai. Adat pepadun sai batin ini masih ada pengaruh dari Hindu dan Buddha Putri Bulan tidak dikenal keempat peserta sidang (empat buay) yang merupakan utusan kelompok masing-masing wilayah. Sangaji Mailahi menjawab akan membentuk adat. Keempat bersaudara dari 4 buay tersebut merasa sangat tertarik melihat Putri Bulan adik angkatnya Sangaji Malihi, sehingga rapat/sidang ditunda sejenak karena terjadi keributan di antara mereka. Untuk mengatasi keributan itu, Sangaji Malihi memutuskan Putri Bulan dijadikan adik angkat dari mereka berempat. Setelah meninggalkan daerah Goa Abung, mereka menyebarkan adat ke daerah pedalaman Lampung sekarang. Buay Unyai pada puluhan tahun kemudian hanya mengetahui sidang adat pepadun sai batin diadakan di daerah Buay Unyai dan sebagai Raja Adat, Raja Hukum, Raja Basa (Bahasa) adalah Sangaji Malihi yang kemudian hari dijuluki masyarakat sebagai Ratu Adil. Buay Bulan (Mega Pak Tulangbawang) pada permulaan abad ke-17 Putri Bulan bersuamikan Minak Sangaji dari Bugis yang julukannya diambil dari kakak angkatanya sangaji Malihi (Ratu Adil). Empu Riyo adalah keturunan Buay Bulan di Buay Aji Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan ada di belakang Kecamatan Tulangbawang Tengah dan Makam Minak Sangaji dan Putri Bulan di Buay Aji Tulangbawang Menggala (sekarang). Di antara keturunan Raja Jungut/Kenali Pesagi keturunan Buay Bulan ada di Kayu Agung, keturunan Abung Bunga Mayang dari Mokudum Mutor marga Abung Barat sekarang. Jadi adat pepadun sai batin merupakan satu kesatuan (two in one) yang tidak terpisahkan satu sama lainnya karena arti/makna dari pada kata atau kalimat pepadun sai batin adalah pepadun = musyawarah/mufakat, dan sai batin = bersatu/bersama. Jadi kata pepadun sai batin adalah musyawarah mufakat untuk bersama bersatu. Dan kemudian hari sejarah adat pepadun sai batin terbagi menjadi 2 kelompok/jurai, yaitu Lampung sai = pepadun dan aji sai = sai batin, yang kemudian kita kenal sebagai lambang Sang Bumi Ruwa Jurai (pepadun sai batin). Fakta/bukti autentik piagam logam tahun 1652 Saka/1115 H atau tahun 1703 M yang bertuliskan Arab gundul dan aksara pallawa/hanacaraka msh ada sampai sekarang. Jadi adat pepadun sai batin itu berarti musyawarah mufakat untuk bersatu/bersama dalam pembentukan adat. Pepaduan sama dengan Musyawarah atau mufakat Sai Batin sama dengan Bersatu atau bersama Lampung Sai sama dengan kita bersatu atau mereka bersatu Aji sai sama dengan Saya satu atau ini satu Sang Bumi Ruwa Jurai sama dengan pepaduan saibatin (satu kalimat) musyawarah untuk bersatu.

blog pribadi : http://rizqimahmudah05.blogspot.com/2012/11/sejarah-adat-lampung.html

 
November 29th, 2012
 

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia sekaligus merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu.

Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. Selain objek wisata , Bali memiliki ciri khas pada design bangunan rumahnya adatnya.

Keindahan arsitektur bangunan rumah adat Bali berbeda dengan rumah adat lain, sehingga tidak bisa dibandingkan secara khusus antar bangunan. Rumah adat Bali terdapat ornamen–ornamen khusus yang dapat memunculkan keindahan tersendiri berupa ukiran-ukiran dan patung-patung serta kombinasi pemberian warna . Saat ini tak hanya orang Bali atau Indonesia saja yang suka akan design tersebut, orang asing pun menyukainya.

Pembuatan design pada rumah adat bali tidak sembarang orang yang dapat melakukannya, karena di lihat dari struktur motif sangat ruit sekali. Sehingga anda perlu menyewa orang khusus untuk mengerjakan pembuatan rumah adat bali . Telah banyak orang yang menawarkan jasa pembangunan arsitek bangunan adat bali di internet.

Dalam membangun rumah adat bali harus bisa melengkapi sebuah aspek-aspek yang dipercayai dapat tercipta hubungan harmonis yaitu Tri Hita Karana ( pawongan , palemahan, parahyangan) . Dilihat secra kasap mata memang sederhana namun dalam pembangunan rumah adat bali terdapat peraturan yang disebut Asta Kosala Kosali .

Link Blog Pribadi: http://andarys.blogspot.com/2012/11/how-beautiful-balis-tradition-is.html

« Previous Entries